MUNGKID – Tanah retak mengancam sebanyak 13 rumah di Dusun Dawungan, Ngadirejo, Salaman. Selain mengancam bangunan fisik rumah warga, tanah retak juga menyasar jembatan penghubung antardusun.

Warga khawatir, tanah retak tersebut meluas dan mengancam pemukiman penduduk.

Tanah retak menjalar dari Utara ke Selatan. Rekahan paling lebar berkisar 30 sentimeter dan panjang sekitar 70 meter. Selain mengancam rumah dan jembatan, kondisi ini menyebabkan pepohonan di sekitar dusun itu juga miring. Bahkan rekahan tanah mengarah ke sungai di dusun tersebut.

Supriyanto, warga Dawungan mengatakan, rekahan tanah trsebut muncul kali pertama sekitar tiga yahun lalu. Pascahujan, tanah mengalami retak di beberapa titik. Seiring berjalannya waktu, rekahan tanah diketahui semakin lebar.

“Warga mencoba menutupi rekahan tanah. Namun justru semakin melebar,” ungkap Supriyanto kemarin (24/1).

Ia melanjutkan, tanah retak ini mengakibatkan bangunan jembatan amblas. Sementara 13 rumah warga lainnya dalam kondisi terancam. Adapun rumah warga Dawungan yang terancam adalah milik Anas, Sujito, Mandariyah, Sumainah, Murtini, Matori, Kalimin, Munjeni, Sunarko, Rofik, Nurwanto, Ruwandi, dan milik Supriyanto.

“Diantara mereka, ada yang rumahnya dilalui rekahan tanah. Temboknya sudah retak-retak,” paparnya.

Untuk mengantisipasi rekahan lebih besar, warga menggelar kerja bakti menutup rekahan tanah. Selain itu, masyarakat setempat juga membuat saluran irigasi dengan jalur lain. Hal ini agar beban tanah bisa semakin berkurang, sehingga tanah yang retak tidak semakin melebar.

“Semoga pemerintah segera membangun dam agar keretakan tanah tidak semakin melebar. Ini penting, karena 13 rumah warga yang terancam dihuni sekitar 50 jiwa lebih,” urainya.

Sujito, warga Dawungan lainnya mengaku, tanah retak ini menjalar melalui depan bangunan rumahnya. Kolam yang ada di samping rumah mengalami retak dan semakin hari diketahui semakin lebar.

“Warga pernah mencoba memasukan bambu ke dalam rekahan tanah. Tanpa diduga, bambu sepanjang enam meter terus masuk ke dalam tanah,” katanya.

Rekahan tanah tersebut membuat dirinya dan tetangganya merasa was-was. Ketika turun hujan, ia dan warga Dawungan bersiaga dan memantau kondisi tanah retak. Mereka khawatir, jika tanah retak dibiarkan terus-menerus, semakin melabar jarak rekahan.

“Kami berharap, pemerintah segera membangun dam di pinggir sungai, sehingga mengurangi keretakan tanah dan kondisi tanah bisa semakin padat,” katanya.

Di wilayah lain, bencana pohon tumbang sempat mengakibatkan Fajar Muhtadi, 9, Dusun Sanggrahan, Kebon Agung, Bandongan meninggal dunia, pekan lalu (22/1). Saat itu Fajar membonceng sepeda motor bersama Ayahnya, Nasikin, 64, melintas di kawasan Desa Beseran, Kecamatan Kaliangkrik. Tiba-tiba sebuah pohon Sonokeling roboh menimpa keduanya.

Motor ambruk, Nasikin mengalami luka di wajah bagian dagu. Sedangkan Fajar jatuh terpental ke aspal. Meski sempat dibawa ke rumah sakit, akibat luka yang dialami di bagian kepala, akhirnya Fajar meninggal dunia. Waktu itu, keduanya usai membeli sepatu untuk sekolah Fajar.

Bencana angin kencang juga masih berlangsung paginya, Sabtu (23/1). Sejumlah pohon tumbang menimpa rumah warga, hingga menutup akses jalan di beberapa titik di Kecamatan Salam.

Pohon tumbang juga sempat menutup akses jalan di Desa Sengi, Dukun. Bahkan, kejadian itu juga terjadi di Kecamatan Sawangan. Pohon tumbang menimpa kabel jaringan listrik di Desa Gantang, Sawangan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Magelang sudah meninjau beberapa lokasi bencana tersebut.(ady/hes/ong)