ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
PEDULI BUDAYA: Anggota Kelompok Jathilan Kudho Sembodo mempersiapkan peralatan sebelum tampil. Foto kanan, Ketua Kelompok Jathilan Kudho Sembodo Sukardi.

Bantingan untuk Beli Perlengkapan, Belum Tersentuh Bantuan Pemerintah

Nilai dana keistimewaan (danais) yang diterima pemerintah DIJ cukup fantastis. Namun, pembagiannya ternyata belum merata. Kelompok jathilan Kudho Sembodo salah satu yang belum pernah sekalipun mencicipinya.

ZAKKI MUBAROK, Piyungan
DI tengah keterbatasan fasilitas, dengan konsisten, kelompok kesenian yang digawangi seorang pemulung ini mampu bertahan hingga usianya menapak 20 tahun. Pahit manis sebagai pecinta kesenian tradisional pernah dialami Sukardi, 50, ketua kelompok kesenian jathilan Kudho Sembodo. Begitu pula dengan seluruh anggota kelompok jathilan yang dibinanya yang berjumlah sekitar 50 orang.

Meminjam peralatan musik tradisional, hingga seragam pentas bukan hal tabu baginya di awal-awal berdirinya kelompok kesenian jathilan Kudho Sembodo.

“Kami berdiri tanggal 23 Maret 1996. Semua serba kurang saat itu,” tutur Sukardi saat ditemui sebelum pentas menyemarakkan hari ulang tahun pemuda-pemudi Dusun Banyakan I RT 3 (Rega), Minggu (24/1)
Tak hanya minim peralatan pelengkap, tak jarang kelompok kesenian ini tampil dengan jumlah personel kurang. Maklum, mayoritas anggota kelompok kesenian asal Dusun Mahbang, Banyakan III, Sitimulyo, Piyungan ini buruh lepas. Sebagian ada yang berprofesi sebagai buruh tani, sebagian lagi buruh bangunan, dan sopir. “Saya sendiri pemulung di TPST Piyungan,” ucap Sukardi.

Karena salah satu personel berhalangan hadir, Sukardi yang akhirnya menutup kekurangan itu. Sukardi mengaku menguasai dan mampu memainkan berbagai alat musik tradisional seperti gamelan, kendang, hingga bende.

Sukardi bercerita proses berdirinya kelompok Kudho Sembodo tidaklah mudah. Saat itu, masyarakat Banyakan tidak ada yang mengetahui seluk-beluk kesenian tradisional jathilan, apalagi memainkannya. Dengan modal keuletan dan ketelatenan, pria kelahiran Imogiri ini mengajak dan mengajari satu per satu warga Dusun Banyakan yang tertarik dengan jathilan.

“Saya nggak meminta iuran kepada masyarakat. Kalau ada anggota yang memberikan iuran ya saya terima. Intinya kami bantingan untuk nguri-uri jathilan ini,” kenangnya.

Setelah terbentuk dan terlatih, kelompok jathilan ini kemudian sering diundang berbagai elemen masyarakat untuk pentas. Dari yang semula nir keuangan, kelompok jathilan ini lambat-laun akhirnya memiliki uang kas. Peralatan musik pelengkap, dan seragam pentas pun juga mampu dibeli sendiri.

Saat ini, dalam sebulan kelompok jathilan Kudho Sembodo rata-rata diundang menghadiri acara satu hingga dua kali. Kepada sang pengundang, Sukardi mengatakan, dirinya tidak pernah mematok tarif. Begitu pula dengan persyaratan-persyaratan lainnya. Yang terpenting, sang pengundang cukup memberikan uang kas yang nilainya cukup ratusan ribu, rokok, serta wedang. “Kalau komplet sebenarnya Rp 2,7 juta hingga Rp 3 juta. Itu sudah semua termasuk sound, rias dan lain-lain,” sebutnya.

Kendati telah lama malang-melintang nguri-uri kabudayan, Sukardi mengaku belum pernah menerima sentuhan bantuan pemerintah. Termasuk danais sekalipun. Sukardi sebenarnya sedikit berharap pemerintah mengulurkan bantuan. “Paling tidak untuk beli pakaian. Biar ada gantinya. Juga, untuk membeli alat musik yang baru,” bebernya. (din/ong)