SLEMAN- Rencana pemulangan anggota eks Gafatar asal DIJ belum ada kepastian hingga kemarin (26/1). Namun tersiar kabar bahwa eks Gafatar asal Sleman telah ditampung sementara di Asrama Haji Donohudan, Boyolali.

Kendati begitu, berbagai persiapan dilakukan guna menyambut bekas anggota organisasi yang semula tinggal di kamp Gafatar di Mempawah, Kalimantan Barat.

Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sleman salah satu yang paling sibuk dalam persiapan tersebut. Tugas utama Kemenag menyiapkan penyuluh untuk memberi pemahaman para eks Gafatar yang memiliki mindset berbeda dalam hal agama dan tata cara peribadatan yang diyakini.

Kemenag menyiapkan 320 penyuluh agama honorer ditambah 48 pegawai fungsional untuk menjalani tugas tersebut. “Persuasif. Dikumpulkan dulu, lalu diberi pengarahan,” ujar Kepala Kemenag Sleman M.Lutfi Hamid.

Tak berhenti sampai di situ, para penyuluh akan mendampingi eks Gafatar untuk memberi dukungan moril. Sekaligus meyakinkan masyarakat agar menerima mereka kembali. Lutfi menegaskan, setiap orang punya hak kemanusiaan yang harus dihormati siapapun. “Pembinaan dilakukan secara kontinyu menyesuaikan jalan pikir mereka,” lanjutnya.

Menurut Lutfi, sebagian eks Gafatar memiliki keyakinan dan menjalankan Milah Ibrahim. Itu juga berpengaruh juga terhadap pola pikir tentang hubungan negara dan agama. Aspek itulah yang menjadi fokus utama kegiatan pendampingan eks Gafatar.

Untuk menampung eks Gafatar asal DIJ, telah disiapkan area Youth Center di Mlati. Di pusat gelanggang pemuda tersebut, mereka ditampung untuk didata, sebelum dikembalikan ke keluarga masing-masing.

Staf Administrasi Youth Center Erla Anggraini mengatakan, sebanyak 60 tempat tidur di dua barak telah siap. Berikut 12 kamar mandi. Dua barak direncanakan untuk memisahkan laki-laki dan perempuan.

Jika jumlah eks Gafatar ternyata lebih banyak dari perkiraan, sisanya bisa ditampung di hostel, yang masih satu kawasan Youth Center. “Total 228 bed. Masih ada 60 bed tambahan. Tapi sementara kami diminta menyiapkan 60 bed,” jelasnya.

Tentang jadwal kehadiran eks Gafatar, Erla mengaku belum memperoleh kepastian. 
Erla juga belum mengetahui jumlah kepala keluarga atau jiwa eks Gafatar yang akan ditampung di Youth Center. Ruang trauma healing dan taman bermain anak juga belum disiapkan.

Menurutnya, hal itu masih dirapatkan oleh pejabat terkait di DIJ. “Masih menunggu. Instruksinya, kami hanya disuruh siapkan dua barak,” lanjutnya.

Di Bantul, menjelang kepulangan eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) ternyata pemkab masih bingung, khususnya penempatan mereka. Namun demikian, pemkab mempertimbangkan penggunaan rusunawa di Banguntapan untuk menampung eks organisasi masyarakat (ormas) yang dinilai kontroversial itu. “Tapi penggunaan rusunawa ini kan butuh koordinasi juga,” terang Pejabat Bupati Bantul Sigit Sapto Rahardjo, kemarin (24/1).

Mengingat, kata Sigit, rusunawa yang baru selesai dibangun itu diproyeksikan untuk para buruh. Bila memang belum ada daftar calon penghuni, tak tertutup kemungkinan eks anggota Gafatar ditampung di rusunawa untuk sementara waktu. “Harta eks Gafatar di Bantul sudah habis karena dijual. Itu yang masih belum jelas penanganannya seperti apa usai hidup di penampungan,” bebernya.

Terkait prosedur pemulangan eks anggota Gafatar, Sigit menegaskan, pemkab mengikuti pemerintah DIJ. Informasinya, sesampainya di pulau Jawa, eks anggota Gafatar akan singgah di asrama haji Donohudan selama tiga hari. Setelah itu, mereka akan dipindah dan ditampung di Youth Center Sleman selama tiga hari. Nah, pasca penampungan di Youth Center, penanganan eks anggota Gafatar menjadi domain pemkab.(yog/zam/din/ong)