BANTUL – Puncak musim penghujan diperkirakan akan berlangsung Januari hingga Februari. Karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengimbau masyarakat waspada menghadapinya. Sebab, hujan deras selama puncak musim penghujan ini berpotensi disertai angin kencang.
”Informasi dari BMKG, hampir seluruh wilayah di Jawa kondisinya hampir sama,” terang Kasi Logistik dan Kedaruratan BPBD Bantul Anton Victory, kemarin (25/1).

Menurutnya, sejumlah dampak puncak musim penghujan dapat terlihat di sepanjang Januari. Di antaranya angin kencang. Hingga pekan ketiga ini, BPBD mencatat ada 101 kejadian angin ribut. Fenomena alam yang juga menyebabkan pepohonan bertumbangan ini terjadi hampir di seluruh wilayah Bantul.
”Semua kecamatan berpotensi. Tidak ada kecamatan yang paling rawan. Semua rawan,” tegasnya.

Namun demikian, ada dua kecamatan yang paling parah kerusakannya. Yaitu, Sedayu dan Jetis. Selain tumbangnya pepohonan, angin kencang juga menyebabkan kerusakan sejumlah sarana, dan bangunan rumah. Misalnya, kabel instalasi PLN. Juga, bangunan rumah milik Adi Utomo.

Anton mengungkapkan, ambruknya rumah warga RT 1 Kaligawe tersebut bukan dampak langsung dari hujan deras yang disertai angin kencang. “Kondisi rumahnya sudah rapuh, kemudian terkena beban basah juga,” ungkapnya.
Guna meminimalisasi potensi kerusakan dan jatuhnya korban jiwa, BPBD selama ini rutin memangkas pepohonan perindang, serta menebang pepohonan yang telah rapuh. Selain itu, BPBD juga meningkatkan program kesadaran risiko bencana dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat.

Camat Bantul Endang Rahmawati menyebutkan, ada 125 rumah tidak layak huni di kecamatan Bantul. Salah satunya milik Adi Utomo. “Kami juga tengah melakukan pendataan ulang jumlah rumah yang tidak layak huni,” jelasnya.

Agar pendataan maksimal, Endang berharap seluruh elemen masyarakat berpartisipasi. Pengecekan rumah tidak layak huni tidak hanya berdasar pada kondisi atap dan lantai. Melainkan juga kondisi tembok serta kayu-kayu penyangganya. “Sehingga ini bisa menjadi perhatian penghuninya. Ketika ada bencana penghuninya bisa langsung menghindar dari bahaya,” harapnya.

Kecamatan Bantul, kata Endang, sebetulnya memberikan perhatian eksra terhadap rumah tidak layak huni dengan memberikan bantuan. Ada beberapa rumah tidak layak huni yang selesai direhab. Sayangnya, program kecamatan ini terkendala anggaran. Sehingga semuanya belum tersentuh.(zam/din/ong)