ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
RATA DENGAN TANAH: Warga berada di sisa- sisa bangunan rumah milik Adi Utomo di RT 1 Kaligawe, Geblak, Bantul, yang ambruk setelah hujan deras yang disertai angin kencang menerjang Minggu petang (24/1).

BANTUL – Musim penghujan mulai menelan korban. Bangunan rumah semi permanen milik Adi Utomo alias Pariman, 90, ambruk dan rata dengan tanah setelah hujan deras yang disertai angin kencang menerjang RT 1 Kampung Kaligawe, Pedukuhan Geblak, Kelurahan Bantul, Kecamatan Bantul, Minggu (24/1) petang.

Akibatnya, sepasang suami istri, Adi Utomo dan Juminem mengalami luka-luka setelah tertimpa kontruksi bangunan rumahnya. Saking parahnya, kakek yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh tani itu Senin (25/1) akhirnya menghembuskan napas terakhirnya. 
Dalimun, 52, kerabat korban menceritakan, Minggu sore kampung Kaligawe diterjang hujan deras yang disertai angin kencang. Setelah hujan reda, kemudian sekitar pukul 18.30 terdengar mirip suara pohon ambruk.
”Kejadian abis Maghrib sebelum Isya. Saya mengira ada pohon tumbang,” terang Dalimun.
Pria yang juga tokoh masyarakat setempat ini baru mengetahui bila suara tersebut ternyata rumah ambruk setelah ada yang berteriak meminta pertolongan. Tak lama kemudian sejumlah warga setempat pun menolong sepasang suami istri tersebut dengan mengeluarkannya dari reruntuhan kontruksi bangunan rumah. “Punggung mbah Adi tertimpa balungan rumah. Isterinya tertimpa pada bagian kepalanya hingga berdarah,” ujarnya.

Dengan mandiri, sepasang suami istri nahas ini dibawa warga ke RS PKU Muhammadiyah Bantul. Dari pemeriksaan, Adi Utomo tidak mengalami patah tulang ataupun luka serius, meskipun punggungnya tertimpa kayu besar. Hanya bengkak yang terlihat. Adapun bagian kening wajah istrinya terpaksa dijahit tim medis lantaran mengalami luka cukup serius.
”Ada 10 jahitan. Kemudian jam 02.00 pagi, dokter memperbolehkan keduanya pulang,” jelasnya. Tetapi, tiga jam kemudian, tepatnya pukul 05.00 Adi Utomo dinyatakan meninggal dunia.
Suminto, 50, tetangga korban menambahkan, selama ini Adi Utomo hanya tinggal bersama istrinya di bangunan rumah semi permanen miliknya. Ketiga anaknya telah berkeluarga dan tinggal persis di belakang rumahnya.
”Hasil bantuan gempa 2006 lalu sebesar Rp 4 juta dijadikan rumah ini,” ucapnya.
Menurutnya, kondisi rumah Adi Utomo memang tidak layak. Selain hanya berukuran 4 meter X 6 meter, kondisi fisik bangunan yang dindingnya terbuat dari tembok ini tampak rapuh. “Ambruknya bukan karena diterjang angin. Wong ambruknya langsung ke bawah kok. Mungkin karena penyangganya sudah rapuh,” tuturnya.

Suminto menambahkan, ada satu lagi bangunan rumah semi permanen di kampung Kaligawe. Namun, dia menilai, kondisi fisik rumah milik salah satu warga tersebut cukup kokoh. “Masih lebih kuat sana,” tambahnya.(zam/din/ong)