SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
MASIH KHAWATIR: Orang tua Faza, Sukardi, 54, dan Sulistiyati, 52, ditemui di rumahnya di Dusun Cibukan, Sumberadi, Mlati, Sleman, Selasa (26/1).
RAUT kesedihan masih terlihat di wajah kedua orang tua Faza Anangga Novansyah, 27. Pasangan suami-istri Sukardi, 54, dan Sulistiyati, 52, itu, tidak pernah menyangka bahwa anak sulungnya itu bisa terpengaruh paham Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang disebut-sebut sesat. Faza Anangga Novansyah, merupakan salah satu orang yang disebut hilang karena ikut Gafatar, ditemukan pada Kamis (21/1). Dia diduga merupakan salah satu pejabat di Gafatar
Dalam data yang diperoleh Radar Jogja, Faza memiliki po-sisi struktural Gafatar Sleman B1. Posisi itu diduga merupakan bendahara umum 1 Gafatar Sleman.Saat keluarga Faza dikonfir-masi, kedua orang tuanya tidak tahu sejauh mana keterlibatan Faza. Mereka mengaku Faza belum mau banyak bercerita terkait Gafatar. “Kami tidak ingin memaksa. Biar Faza pu-lih dulu, biar nanti dia bisa cerita dari hatinya sendiri,” kata Sukardi ayah Faza saat ditemui di rumahnya di Dusun Cibukan, Sumberadi, Mlati, Sleman, Selasa (26/1).

Dari keterangan Faza kepada keluarga, dia berangkat ke Ke-tapang, Kalimantan Barat untuk membuat perusahaan air mi-neral. Sebab, menurutnya, di sana air bersih masih sulit. Saat pergi, Faza pamit ke keluarga besarnya. “Mas Faza memang tidak ter-libat di kamp Gafatar di Mem-pawah. Soal perusahaan air mineral itu ada sangkutannya dengan Gafatar, juga belum ada cerita,” ujarnya.Meski demikian, keluarga se-dikit menaruh curiga mengenai aktivitas Faza beberapa waktu belakangan. Sebab, setelah be-berapa waktu bekerja di peru-sahaan kontraktor dan IT, me-reka tidak tahu berapa Faza digaji dan kemana uang tersebut. “Kalau kerja gajinya saja kami tidak tahu, kami khawatir apa usaha itu hasilnya untuk biayai Gafatar atau gimana, kita juga tidak tahu,” ungkapnya.

Diakuinya, Faza memang banyak berkontribusi pada Gafatar saat masih berada di Jogja. Bahkan dia pernah mem-buatkan video yang menjelas-kan soal Gafatar. Video itu diketahui keluarga setelah Faza menghilang. Setelah pamit ingin ke Sama-rinda, saat itu kontak keluarga dengan Faza terputus. Hampir dua bulan Faza tidak dapat di-hubungi. Setelah mencuat ka-bar tentang dokter Rica, kelu-arga lalu melapor ke Polda DIJ. “Katanya HP-nya (handphone) rusak, jadi ndak bisa dihubungi. Memang anaknya suka bikin yang berhubungan dengan IT. Bikin program sama bikin video. Mungkin itu yang dimanfaatkan oleh Gafatar,” tutur Sulistiyati.

Saat Radar Jogja berkunjung ke rumah Faza, yang bersang-kutan belum dapat ditemui. Keluarga menyebut, kondisi Faza saat ini baik-baik saja. Faza tidak banyak keluar rumah sejak pulang. Bahkan tetangga di sekitar rumahnya belum per-nah bertemu dengannya. “Mungkin ada perasaan ta kut kalau nanti keluarganya dicap jelek. Kemarin waktu Jumatan Faza juga salat di luar (tidak di kampungnya),” tandasnya.Sukardi, ayah Faza juga men-jelaskan, kondisi Faza baik-baik saja dan mulai beraktivitas kem-bali. Meski sempat ikut Gafatar, dia mengaku alumni Teknik Industri UPN itu masih menja-lankan ibadah. “Waktu pertama ketemu di Bandara saya tanya masih salat nggak? Faza jawab masih, tapi Subuh kadang telat,” kata Sukardi.

Bahkan saat di bandara, Faza sempat salat berjamaah ber-sama ayahnya dan polisi yang menjemputnya. Yaitu salah Isya dan Subuh. Meski mengetahui Faza masih salat, namun Su-kardi masih tetap mengingatkan supaya Faza tetap salat. Sebab dia khawatir jika anaknya ter-pengaruh kembali. “Kami min-ta pak Ustazd mendampingi Faza. Kami ingin memperbaiki akidah yang diimani Faza,” ungkapnya.Melihat kondisi Faza saat ini, yang menjadi korban Gafatar, Sulistiyati dan Sukardi mengaku sedih. Sebab anak seusia Faza seharus sedang meniti karir pe-kerjaan dengan baik, semen-tara anaknya justru terjerumus. “Sedih sekali melihat kondisi Faza, kami mendidiknya dengan baik, tapi kenapa masa depannya justru dihancurkan oleh kelom-pok seperti itu,” pungkasnya. (riz/ila/jko/ga/ong)