JOGJA – Pemprov DIJ mengakui kesulitan melakukan pendataan warga DIJ eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang saat ini dalam proses pemulangan ke DIJ. Sementara ini, data yang dimiliki Pemprov DIJ, terdapat 338 warga DIJ eks Gafatar di asrama haji Dono-hudan Boyolali, namun ada kabar terdapat lima orang lagi yang sekarang berada di penampungan di Jakarta dan Surabaya.Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Po-litik (Kesbangpol) DIJ Agung Supriyanto mengatakan, kesulitan identifikasi terhadap para eks Gafatar tidak hanya karena me-reka yang memilih bungkam, juga karena beberapa kartu identitas yang hilang atau terbakar. “Ada kesulitan untuk identifikasi, karena ada yang KTP-nya terbakar, dan ada yang sengaja bungkam,” ujar Agung di Kepatihan, kemarin (26/1)
Kesulitan identifikasi tersebut yang membuat beberapa warga DIJ eks Gafatar berada di penam-pungan di Jakarta dan Surabaya. Selain lima orang yang kini be-rada di Jakarta, informasi terakhir juga ada lima orang di Surabaya. Agung menambahkan, identi-fikasi dan penanganan harus segera diselesaikan. Hal itu ka-rena berdasarkan informasi dari Kesbangpol Pontianak akan ada pemulangan eks Gafatar kloter selanjutnya, yang jum-lahnya mencapai 1.000 orang lebih. Dari 1.000 orang kloter kedua itu, untuk warga DIJ, Agung mengaku belum mengetahui jumlahnya.

“Kami belum dapat manifesnya, tapi ada info pe-mulangan gelombang selanjut-nya dari Kalimantan Barat,” tuturnya.Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekprov DIJ Sulistyo mengatakan, ber-dasarkan koordinasi terakhir dengan Pemprov Jateng, pemu-langan warga DIJ eks Gafatar ditunda sehari. Jika sebelumnya, dijadwalkan penjemputan pada Kamis (28/1), ditunda dan baru dilaksanakan pada Jumat (29/1). “Kegiatan pembinaan oleh Pem-prov Jateng di Donohudan sam-pai Kamis malam, makanya baru dijemput Jumat pagi,” jelas Sulis, sapaannya.

Dia memastikan Youth Cen-ter Sleman sebagai tempat penampungan mencukupi untuk semua warga DIJ eks Gafatar. Dinas sosial juga sudah menyiapkan anggaran sekitar Rp 650 juta untuk logistik. Da-pur umum juga segera didirikan, dibantu TNI. Di sisi lain, Youth Center yang berada di Mlati, Sleman, terus dipersiapkan untuk menyambut kedatangan warga eks Gafatar. Jika sebelumnya hanya dipersi-apkan untuk bisa menampung 200-an orang, kini disiapkan untuk 338 orang. “Informasi terakhir yang kami terima jumlah warganya 338 orang, karena itu kami siapkan ruangan untuk bisa menampung semua,” kata Kepala Kantor Kesatuan Bangsa (Kesbang) Sleman Ardani
Ditambahkan, selama di Youth Center, warga eks Gafatar akan memperoleh pembinaan dan trauma healing. Kepala Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) DIJ Edy Wahyudi mengatakan, selama di Youth Center, eks Gafatar mendapatkan pendam-pingan psikologis dan keaga-maan. Terkait hal itu, BPO hanya menyiapkan lokasi Youth Center. Pada bagian lain, kemarin Kes-bang mengadakan kegiatan Forum Group Discussion yang melibatkan sedikitnya 110 orang. Terdiri atas aparat hukum dan pemerintahan, tokoh masyara-kat, serta perwakilan warga se-Sleman. Forum diskusi ini se-bagai ajang koordinasi guna menciptakan suasana kondusif pasca evakuasi eks anggota Gafatar.

Termasuk mengantisi-pasi kemungkinan adanya teror oleh pihak tertentu.Penjabat Bupati Sleman Gatot Saptadi tak henti-hentinya mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk menerima kembali eks anggota Gafatar di kampung halaman. Warga diimbau turut membantu pe-merintah dalam pembinaan bagi eks Gafatar. Terpisah, penerimaan terhadap warga eks Gafatar sudah disiap-kan di Bantul. Kapolres Bantul AKBP Dadiyo mengatakan, bila tidak ada perubahan lagi, eks anggota Gafatar asal Bantul akan ditempatkan di gedung Sanggar Kegiatan Bersama (SKB) Sewon. “Itu dari hasil rapat koordinasi,” terang Dadiyo saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin (26/1).

Rencananya, eks anggota Ga-fatar akan ditempatkan di gedung SKB selama tiga hari. Selama waktu itu, seluruh eks anggota Gafatar akan mendapatkan pem-binaan langsung dari pemkab.Kepala Dinas Sosial Bantul Suarman menambahkan, gedung SKB menjadi lokasi yang tepat untuk penempatan eks anggota Gafatar. Selain cukup jauh dari permukiman, fasilitas di gedung SKB cukup lengkap. Sementara itu, di saat 300-an warga lainnya baru sampai di asrama haji Donohudan, Boyo-lali, Jawa Tengah, lima warga eks anggota Gafatar asal Jogja-karta sudah ada yang tiba di Youth Center, Mlati, Sleman, Selasa (26/1). Mereka datang lebih awal karena dievakuasi dengan pesawat.

Kepala Dinas Sosial DIJ Untung Sukaryadi mengungkapkan, kedatangan lima orang eks ang-gota Gafatar itu di luar prediksi sebelumnya. Mereka yang tiba tersebut sebelumnya berada di Jakarta. “Sore tadi sekitar pukul 16.00 WIB, mereka datang meng-gunakan pesawat Air Asia dari Jakarta,” katanya saat dihubungi wartawan, tadi malam.

Untung menambahkan, pen-jemputan terhadap mereka ha-rus dilakukan, menyusul adanya surat dari Kementerian Sosial RI yang memerintahkan agar segera mengambil lima orang yang sebelumnya ditampung di Jakarta itu. Meski tiba lebih awal, pihaknya tak mengalami kesulitan. Sebab sudah menyiapkan segala ke-perluan mulai dari perlengkapan sementara, makanan, tempat tidur, dan keperluan yang lain-nya. “Sudah kami siapkan se-muanya, Tagana juga sudah di sana menyiapkan dapur umum,” tuturnya.Ditanya tentang nama-nama lima orang yang sudah tiba du-luan, Untung belum dapat me-rinci nama-nama dan alamat asal lima warga tersebut. “Belum kami data. Yang penting me-reka tertampung dulu,” katanya. (pra/yog/zam/ila/jko/ga/ong)