RIZAL SN/RADAR JOGJA
DALAM PENDAMPINGAN: Warga eks anggota Gafatar Amri Cahya menggendong anaknya bersama istri didampingi psikolog di kantin Youth Center Sleman, kemarin (27/1).
SLEMAN – Janji pemerintah provinsi ( Pemprov) DIJ untuk memberikan karantina ketat terhadap warga eks anggota Gafatar, dipenuhi. Mereka benar-benar seperti di-kurung di dalam penampungan di Youth Center, Mlati, Sleman
Seperti di hari pertama kema-rin, siapa pun yang ingin ketemu mereka, dilarang. Tak terke-cuali para anggota dewan dan relawan dapur umum yang me-nyediakan makanan bagi me-reka.Seperti diketahui, dari 300-an warga eks anggota Gafatar asal DIJ sudah dievakuasi dari kamp mereka di Mempawah, Kaliman-tan Barat. Dari jumlah tersebut, empat di antaranya sudah sampai di DIJ, tepatnya di penampung-an Youth Center, Sleman, sejak Selasa (26/1) petang.Mereka antara lain pasangan suami istri Amri Cahyono, 35 dan Vita Yusni, 35 beserta dua anak mereka Ahmad Saqila Muhtadi, 8, dan Bunga Ayu Me-gaputri, 4. Sementara ratusan lainnya masih menjalani karan-tina di asrama haji Donohudan, Boyolali, Jateng.

Dari pantauan Radar Jogja, sejak kehadiran empat warga eks anggota Gafatar itu, Youth Center seperti menjadi tempat yang tertutup untuk umum. Barak di Youth Center disteril-kan. Tidak semua orang bisa masuk, termasuk awak media. Bahkan anggota DPRD Sleman yang bermaksud menengok warga eks anggota Gafatar juga dilarang.Salah seorang petugas se kuriti Youth Center, Suparman me-ngaku mendapat instruksi dari Dinas Sosial DIJ agar melarang siapa pun yang berniat menemui eks anggota Gafatar. Bahkan, memfoto suasana ruang penam-pungan pun tidak boleh. “Harus steril dari media, agar tidak meng-ganggu kenyamanan mereka (eks Gafatar),” katanya.Tapi dia membenarkan, satu keluarga eks anggota Gafatar sudah berada di dalam barak. Mereka menempati salah satu ruangan di salah satu barak Youth Center. Mereka tidak boleh berin-teraksi dengan keamanan atau penjaga Youth Center. “Saya hanya bisa beri ke terangan kalau mereka benar sudah tiba, ada empat orang. Perintahnya seperti itu,” katanya.

Juga dikatakan, petugas ke-polisian sudah berjaga di dalam Youth Center sejak Selasa (26/1) malam. Selain itu, ada relawan dari satuan Taruna Tanggap Bencana (Tagana) yang men-dirikan dapur umum untuk para pengungsi tersebut. “Per-siapan untuk besok, Tagana sudah mulai masak. Dinas ke-sehatan juga sudah datang mobilnya,” ungkapnya.Sementara itu, dua anggota Komisi D DPRD Sleman yang mencoba ke gedung utama Youth Center, juga dibuat kecewa. Mereka dilarang menemui eks Gafatar. “Ada petugas, katanya dari Kemensos. Mereka tak mengizinkan sebelum ada instruksi pusat,” ujar Prasetyo Budi Utomo, Ketua Fraksi Golkar DPRD Sleman yang jauh-jauh datang dari Prambanan.Pras, begitu sapaan akrabnya, menilai tak sepantasnya eks Gafatar dikurung di dalam ruangan seperti diisolasi. Bahkan, tim relawan Tagana yang membuka dapur umum, hanya boleh me-masak makanan, dan tidak boleh menjumpai warga eks Gafatar. Sementara untuk menyajikan makanan kepada eks Gafatar, dilakukan oknum yang mengaku dari Kemensos tersebut. “Mereka itu korban (Gafatar), bukan teroris. Saya lihat mereka malah seperti tertekan,” sindir Pras.

Sementara itu, Radar Jogja termasuk beruntung dalam liputan di Youth Center kemarin. Ini karena berhasil memergoki salah satu warga eks anggota Gafatar yang sedang ke kantin di kompleks Youth Center, Amri Cahyono. Di kantin, dia tampak bersama istri dan anaknya, dengan didampingi seorang psikolog.Satu keluarga itu berada di kantin Youth Center sebelah belakang bagian barat gedung. Amri, panggilan akrabnya, tampak santai menggunakan kaus war-na biru, celana pendek dan ber-topi. Sementara itu seorang psikolog dengan baju berwarna cokelat tampak setia men-dampingi mereka di kantin. “Nanti saja ya mas. Saya cuma sendiri, besok saja kalau sudah ramai banyak orang bisa tanya lagi,” kata Amri kepada Radar Jogja.Mereka lalu berjalan ke ruang Wisma Budaya yang ditempati keempatnya. Sedikit didesak ter-kait kedatangannya, Amri men-jelaskan jika dia bersama istri dan anaknya datang lebih dahulu, karena menggunakan pesawat dari Jakarta. Sementara yang lain-nya menggunakan kapal dan baru akan tiba Kamis (27/1). “Iya saya naik pesawat kemarin soalnya. Sehingga sampai duluan. Sama istri dan anak,” ungkapnya.

Sebelumnya Amri disebut sebagai ahli pengelolaan air. Dia bisa membuat sistem pe nyaringan air kotor menjadi air bersih layak konsumsi. Diduga dengan kemampuannya itu, akan dimanfaatkan sebagai logistik keperluan air bersih warga Ga-fatar di Kamp Mempawah, Kalimantan Barat. Hal yang juga hampir mirip dengan Faza Anangga yang juga berangkat ke Kalimantan di bagian pe-nyediaan air minum. Wakil Ketua Komisi D DPRD Sleman Fika Chusnul Chotimah yang juga mengunjungi Youth Center, mengingatkan pemerintah agar tidak sekadar memberi pembinaan dan pendampingan ideologi, mental, dan ke agamaan. Lebih penting dari itu, kesejah-teraan eks Gafatar pasca-penam-pungan di Youth Center. Sementara itu, Penjabat Bu-pati Sleman Gatot Saptadi memberi sinyal positif mengenai jaminan hidup bagi warga eks Gafatar. Menurutnya, pemerin-tah daerah turut bertanggung jawab atas keamanan, kenya-manan, dankeselamatan eks Gafatar sampai ke kampung halaman. (riz/yog/ila/jko/ong)