JOGJA – Keberadaan gelandangan dan pengemis (gepeng) serta pengamen di seputaran Malioboro dianggap mengganggu kenyamanan wisatawan yang berada di sekitar pusat kota itu. Karena itu, Satpol PP DIJ secara periodik menggelar razia gepeng dan pengamen, sekaligus menegakkan Peraturan Daerah (Perda) DIJ Nomor 1/2014 tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis.

Kepala Seksi Penegakan dan Penyidikan Satpol PP DIJ Lilik Andi Haryanto mengatakan, dari operasi yang digelar pagi kemarin (27/1), berhasil merazia sebanyak 13 gepeng, anak jalanan serta pengamen. “Tadi ada juga psikotik yang kami angkut,” terangnya.

Menurut Lilik, dari 13 orang yang dirazia tersebut, mayoritas berasal dari luar DIJ. Dari hasil pendataan, juga diketahui beberapa di antaranya merupakan “pemain” lama yang kembali terjaring. Sebanyak 13 orang hasil razia rutin tersebut, dibawa ke camp assessment di Sewon, Bantul. “Nanti di sana akan dibina oleh petugas dari dinas sosial,” terangnya.

Terpisah, Kepala Satpol PP DIJ yang baru dilantik GBPH Yudhaningrat menambahkan, razia gepeng, pengamen, maupun psikotik merupakan operasi rutin Satpol PP DIJ. Gusti Yudha ketika dihubungi kemarin (27/1) mengaku, belum secara khusus memberikan instruksi pada personel Satpol PP DIJ. “Itu sudah kontinyu untuk penegakkan Perda, saya sendiri belum ke kantor (Satpol PP),masih di Kepatihan, ngemasi barang,” katanya.(pra/ila/hes/ong)