MAGELANG – Kejaksaan Negeri (Kejari) Magelang memilih menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan Badan Kesbanlinmaspol Pemkot Magelang, terkait keresahan masyarakat terhadap logo HUT ke-43 PDIP yang mengandung unsur gambar palu arit. Sikap kejaksaan yang memilih pasif ini tidak lepas dari fakta, spanduk bermasalah tersebut sudah dicopot. Karenanya, keresahan akibat yang pemasangan spanduk yang memuat lambang PKI pada era 1965 sudah diminimalisir.

“Kami memilih untuk menunggu hasil dari Kesbangpolinmas. Apalagi spanduknya kan sudah dicopot,” kata Kasi Intelijen Kejari Magelang Heriyanto kemarin (27/1).

Pria Melayu ini tak menampik, konten dalam spanduk ucapan ulang tahun PDIP tersebut sarat dengan symbol yang diasosiasikan ideologi komunis PKI. Namun pihaknya mengaku, harus punya klarifikasi otentik, sebelum melakukan penindakan.

“Kejaksaan punya wewenang untuk melakukan tindak lanjut. D sini harus dipahami, kami juga butuh klarifikasi dari Kesbangpolinmas. Nah, kami tunggu itu dulu,” paparnya.

Polres Magelang Magelang Kota segera mengambil tindakan tegas terkait dugaan penempatan lambang palu arit yang terdapat dalam spanduk ucapan ulang tahun PDIP. Indikasi penulisan angka “4” yang menyerupai dua simbol yang selama ini diafiliasikan dengan partai terlarang tersebut dianggap sudah meresahkan warga.

Kapolres Magelang Kota AKBP Edi Purwanto mengaku, acuan pihaknya hanya mendasar pada tingkat keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Polisi pasti melangkah terkait kasus ini. Kami akan dalami. Mulai dari mencari tahu siapa yang bikin desainnya, yang mengevaluasi siapa, yang masang siapa, dan yang mencetaknya siapa. Termasuk PDIP Kota Magelang sendiri karena ini bahaya,” kata Edi.

Menurut Edi, DPC PDIP Kota Magelang harus bertanggung jawab. Karena menimbulkan polemik di masyarakat. Pihaknya tak segan bila mengarah pada pelanggaran hukum akan melakukan penindakan.

“Kami terjunan intelijen-intelijen untuk menganalisa faktanya seperti apa. Kalau ada indikasi pelanggaran hokum, tentu polisi akan menindak sesuai prosedur yang berlaku. Tujuan kami jelas, menciptakan kamtibmas di Kota Magelang,” tegasnya.

Sebelumnya, delapan spanduk ucapan ulang tahun ke-43 PDIP Kota Magelang dicopot Satpol PP. alasannya, dianggap memuat simbol yang menyerupai lambang organisasi terlarang. Lambang yang dimaksud adalah palu dan arit, dua simbol yang selama ini diasosiasikan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Penguatan simbol di dalam angka “4” pada angka 43 yang sarat dengan gambar palu dan arit, juga dinilai kentara ahli grafis asal STMIK Bina Patria yang juga dosen di kampus itu, Wahyu Priyo Atmoko. Menurut Wahyu, penulisan garis bawah angka 4 begitu jelas menyerupai gambar palu.

“Yang harus dipegang seorang desainer, wajib memperhatikan pakem-pakem yang ada. Jika tidak, nanti menimbulkan kontroversi di masyarakat. Sudah banyak kasus terkait pembuatan desain logo yang multitafsir di Indonesia dan ujungnya menimbulkan keresahan,” katanya.

Terkuaknya kasus tersebut berawal dari temuan intelijen Kodim 0705/Magelang. Karena kasus ini, DPC PDIP Kota Magelang minta maaf pada masyarakat.

“Logo itu dibuat DPC PDIP sendiri dengan maksud kreativitas dan seni desain grafis saja. Kalau muncul tafsir terkait unsur palu dan arit, kami minta maaf pada masyarakat,” kata Wakil Ketua DPC PDIP Kota Magelang Stin Sahyutri Soekisno.(dem/hes/ong)