RIZAL SN/RADAR JOGJA
SETIA MENCUKUR: Nartowiono, 88, saat memotong rambut pelanggannya di lapak miliknya yang berada di Alun-Alun Utara, kemarin (26/1).

Sempat Keliling Pulau Jawa, Menjadi Langganan Bule Kanada

Setia. Kata itu tepat menggambarkan Nartowiono, 88, yang masih loyal dengan pekerjaannya. Tak sekadar memotong rambut pelanggannya, dia sesekali ngobrol dengan ramah. Tak heran, jika perkembangan zaman tak membuatnya kehilangan pelanggan.

RIZAL SN, Jogja
RAMBUT Paino sudah klimis dan rapi. Tampilan rambut tukang becak itu lebih enak dipandang berkat kelihaian tangan Nartowiono. Seorang tukang cukur rambut yang telah lama mangkal di bawah teduhnya pohon beringin di sisi barat Alun-Alun Utara.

Sebuah tenda warna biru menghalangi Mbah Narto, begitu biasa dia dipanggil, dari panas terik matahari dan hujan yang sering turun akhir-akhir ini. Di sebelah tempatnya duduk, ada kaca berukuran tidak terlalu besar yang diikat dengan tali di pagar besi. Tepat di depan kaca, terdapat kursi serta alat-alat seperti gunting dan sisir yang tampak tertata rapi.

Di usia yang sudah senja, bapak sembilan anak ini terus tekun menjalani profesinya, jasa potong rambut. Padahal, melihat perkembangan teknologi tentunya tukang cukur minimalis sepertinya mulai terpinggirkan.

Dia menuturkan, profesi sebagai tukang cukur telah dijalaninya sejak tahun 1948. “Sudah sekitar 68 tahun. Sudah jadi pekerjaan dan pilihan hidup saya,” ujar Mbah Narto, Senin (26/1) lalu.

Sebelumnya, sembari mencukur rambut salah satu pelanggannya yang merupakan tukang becak, Mbah Narto menceritakan awal mulanya dia belajar teknik memangkas rambut. Kemampuannya itu didapatkan sang paman. Saat mulai belajar memotong rambut, Narto muda selalu memperhatikan dan melihat ketika pamannya sedang mencukur rambut pelanggannya.

“Saya belajar sendiri, tidak pernah ikut kursus. Karena sering lihat pakde lama-lama tahu tekniknya,” ungkapnya.

Setelah menguasai teknik mencukur rambut itulah, Mbah Narto, lantas sempat merantau ke kota-kota di Pulau Jawa untuk mencari penghasilan. Awalnya, dia membuka jasa cukur rambut di Semarang, Jawa Tengah. Dua tahun kemudian dia hijrah ke Madiun, Jawa Timur. Setelah lima tahun, dia lalu ke Kutoarjo, Jawa Tengah. Hingga akhirnya buka cukur rambut di Jogja.

“Dulu pindah-pindah mas. Kalau sekarang sudah tua ya di sini saja,” ujarnya lantas tertawa.

Setiap harinya, dia buka pukul 08.00 sampai 16.00 WIB. Diakuinya, mencukur rambut merupakan profesinya untuk menyambung hidup keluarga. Meski demikian Mbah Narto yang tinggal di Sidoagung, Godean, Sleman ini tidak pernah mematok harga untuk jasanya.

Berapa pun yang diberikan oleh pelanggannya, dia terima dengan senang hati. “Berapa pun yang diberikan saya terima. Mau seribu, dua ribu, lima ribu yang penting ikhlas pasti jadi berkah,” tandasnya.

Meskipun tidak pernah kursus, namun keahlian Mbah Narto dalam mencukur rambut tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan alat seadanya, dia mampu mencukur segala model rambut sesuai keinginan pelanggannya. “Menyesuaikan permintaan pelanggan. Minta cukur model apa saja, pokoknya bisa,” ujarnya.

Dia menuturkan, selama ini kebanyakan memang para pelanggannya adalah tukang becak, tukang ojek, dan tukang sapu. Namun, tak jarang wisatawan asing mempercayakan rambutnya dicukur olehnya. Bahkan, ada yang menjadi pelanggan tetapnya.

“Ada satu bule dari Kanada, kalau datang ke Jogja cukurnya di sini. Ndak tahu kok seneng potong rambut sama saya, katanya suasananya unik, beda dari biasanya,” ucapnya.

Diakuinya, lokasi praktiknya yang hanya di pinggir jalan, lalu di bawah tenda biru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing. Mereka seakan merasakan suasana cukur rambut yang berbeda dengan di kota asalnya. (ila/ong)