MAGELANG – Polres Magelang Kota terus mendalami kepemilikan senjata api (Senpi) ilegal. Bahkan, kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait aksi terorisme, beberapa waktu terakhir.

Belum lagi, ada agenda penting terkait rencana Kunjungan Presiden Ri Joko Widodo (Jokowi) ke Borobudur, Jumat besok (29/1).

Iya, kami memang mengarah ke sana. Apalagi baru saja mendapat info, kalau di Wonosobo juga ada penangkapan seseorang dengan barang bukti bahan peledak di bus angkutan umum. Sementara, kami fokus soal kepemilikan senpi (senjata api) dulu,” ungkap Kapolres Magelang Kota AKBP Edi Purwanto kemarin (27/1).

Menurut Kapolres, pihaknya masih mendalami fakta-fakta yang terungkap dari keterangan tersangka, Saptadi Nugraha, 39, yang beralamatkan di Jalan Adhyaksa B/C-43 RT 002 /RW 005 Lebak Bulus Cilandak, Jakarta. Berdasar penampilan, pria yang kini tinggal di Jalan Kebunsari Nomor 52 Menowo Kedungsari, Magelang Utara ini cukup tenang saat menjalani pemeriksaan oleh petugas Polres Magelang Kota maupun Kodim 0705/Magelang.

“Masih dalami fakta-faktanya. Fakta lho ya. Bukan asal menduga. Makanya, soal senpi, kami juga pastikan dengan mengirimnya ke Labfor untuk diperiksa. Termasuk pembawaan dia yang tenang, saat diperiksa petugas. Apalagi dia juga kelihatan tenang, meski menguasai dua senpi dan amunisinya,” tegasnya.

Pengungkapan kasus senpi berasal dari adanya informasi jaringan intel yang ditindaklanjuti intel Kodim 0705/Magelang di bawah pimpinan Pasi Intel Lettu (Inf) IK Kukuh SSos. Informasi yang beredar di kalangan Intelejen TNI AD, ada pengiriman amunisi kaliber 22 sebanyak 100 butir ke alamat Saptadi Nugraha di Jalan Kebunsari Menowo. Kini, amunisi tersebut telah diamankan di Polsek Klojen Malang, Jawa Timur.

Kemudian, petugas intel melakukan penyelidikan. Hasilnya, Saptadi Nugraha mengakui soal pemesanan amunisi tersebut pada Andri Suartama di Palembang melalui media sosial.

“Dalam perkembangannya, dia mengaku memiliki dua senjata api jenis revolver n coold kaliber 22 dengan 10 amunisi, di mana delapan merupakan peluru tajam dan 2 peluru hampa, tanpa izin. Ia berdalih untuk keamanan dan hendak ikut Perbaikin. Saat ini, Satadi dijadikan tersangka atas pelanggaran UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan hukuman maksimal 12 tahun. Barang bukti masih berupa senpi dan amunisi. Pengembangannya, ponsel juga bisa dijadikan barang bukti juga,” paparnya.

Pasi Intel Kodim 0705/Magelang Lettu (Inf) IK Kukuh SSos membenarkan, pihaknya melakukan langkah antisipatif terhadap segala kemungkinan serangan teroris maupun keamanan terkait rencana kedatangan presiden RI ke Borobudur. “Langkah hati-hati dan antisipasi,” ujarnya.

Tersangka yang ditemani istrinya Christina, 30, di hadapan petugas mengaku, membeli senjata dan amunisi untuk keamanan. Alasannya, ebagai suplier mesin pabrik, ia harus berurusan dengan banyak pihak dan uang dalam jumlah besar.

“Untuk keamanan saat nagih hutang. Apalagi sekarang di Jakarta juga banyak begal,” katanya.(dem/hes/ong)