grafis-persalinan-remaja

JOGJA – Waspada bagi orang tua yang memiliki anak remaja. Orang tua semestinya mengetahui seluk beluk pergaulan putra dan putri mereka. Pasalnya, berdasarkan catatan Dinas Kesehatan DIJ selama tahun 2015 lalu terkait angka persalinan remaja dan kehamilan di luar nikah cukup memprihatinkan. Bagaimana tidak, diketahui sebanyak 1.078 pelajar putri usia SMP dan SMA sudah melahirkan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 976 kasus hamil di luar nikah
Makin memprihatinkan, kasus pelajar yang hamil di luar nikah ini ternyata terjadi hampir me-rata di empat kabupaten dan kota di DIJ. Kasus terbanyak terjadi di Kabupaten Bantul yakni 276 kasus. Peringkat kedua disusul Kota Jogja 228 kasus. Kemudian Sleman 219 kasus, Gunungkidul 148 kasus, dan Kulonprogo 105 kasus.Koordinator Penelitian dan Diseminasi Data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIJ Aprilia Ike Nur-wijayanti mengaku prihatin melihat hal tersebut. Namun, di sisi lain dia tidak terlalu heran, itu mengingat data dispensasi nikah bagi usia 16-18 tahun di Pengadilan Agama juga terbilang tinggi, yakni sebanyak 371 se-lama 2015.

Diketahui berdasar Undang-Undang (UU) nomor 1/1974 tentang Perkawinan, syarat mi-nimal untuk pria melangsungkan pernikahan yakni 18 tahun. Se-dangkan, untuk perempuan yakni 16 tahun. Nah, jika masih di bawah umur, harus mengajukan dis-pensasi ke Pengadilan Agama. “Data PKBI, kehamilan di luar nikah di kalangan pelajar yang melakukan konseling sebanyak 331 kasus sampai November 2015. Itu belum termasuk yang tidak terdata,” kata Aprilia kepada wartawan, Rabu (27/1).

Lebih lanjut, dia menjelaskan, tingginya kehamilan di usia remaja tak lepas dari masih kurangnya informasi kesehatan reproduksi (kespro) di kalangan remaja. Menurutnya, para remaja usia SMP-SMA sudah semestinya mendapat bekal dan pemahaman kespro. “Namun mereka belum semuanya paham kesehatan reproduksi itu seperti apa,” ujar-nya. Dia juga mengeluhkan minim-nya kesadaran orang tua untuk memberitahu anaknya bagai-mana sebenarnya kesehatan reproduksi. Kebanyakan, kata Aprilia, orang tua masih meng-anggap tabu hal tersebut.

Menurut dia, tingginya angka kehamilan di luar nikah salah satunya karena para pelajar tak mengetahui risiko berhubungan seks. Diungkapkan, PKBI DIJ terus mengampanyekan materi kespro. Khusus di kalangan pelajar, lanjutnya, terdapat materi tentang konsep diri. Setelah memperoleh konsep diri, mereka akan bisa menentukan pilihannya. “Setelah remaja tahu risiko pilihannya, ke depannya dia akan memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri,” tandasnya.Aprilia menambahkan, pihaknya saat ini makin serius mengajarkan materi kespro kepada anak usia dini. Hal itu dilakukan sejak 2015 lalu. “Tentu dengan porsi ( materi) yang berbeda,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, materi ke-sehatan reproduksi yang me-reka susun dilakukan dengan diskusi bersama guru-guru PAUD dan para orang tua. Di tingkat pelajar SMP-SMA, materi yang disampaikan lebih bersifat umum. Materi untuk pelajar tersebut juga disusun dengan melibatkan forum guru, siswa, dan PKBI. “Setelah materi jadi, lalu dila-kukan uji coba dengan membe-rikan materi kepada siswa-siswa yang dipilih, sebelum dicetak ulang untuk disebarkan. Infor-masi pendidikan kespro penting. Tak hanya penting bagi remaja, tapi juga orang dewasa,” ujarnya.Dia berharap, Dinas Pendidikan DIJ lebih memperhatikan dan mengajarkan materi kespro kepada para pelajar. Itu meng-ingat kasus hamil di luar nikah di kalangan pelajar sudah sangat tinggi. “Pendidikan kespro ini kami nilai penting. Tujuannya agar mereka bisa memahami kespro dengan benar,” kata Aprilia.

Dia mengungkapkan, sekolah-sekolah yang sudah memberikan materi kespro yakni di Kabu paten Kulonprogo. Di Kulonprogo, kata Aprilia, dinas pendidikan bersama pemerintahan kabu-paten (pemkab) memberikan dukungan untuk memberikan materi kespro. “Kita berharap, pemda men-dorong dinas pendidikan di kabupaten lain untuk mengikuti yang sudah dilakukan di Kulon-progo,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Masya rakat Dinkes Kulonprogo Wahyuni Indriastuti mengatakan, untuk masalah kespro dengan sasaran anak remaja, sudah dibuat modul kesehatan reproduksi untuk guru. Modul ini berisi materi kespro untuk disampaikan pada siswa tingkat SD hingga SMA. “Searah dengan saran bupati Kulonprogo, sudah membuat modul buku kespro untuk guru. Sehingga kita dibantu guru-guru di sekolah untuk memberikan materi kespro. Buku ini untuk SD, SMP, hingga SMA. Mungkin buku ini yang pertama di Indonesia,” tandasnya. (riz/tom/ila/ong)