SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
FOTO PRIBADI: Sosok Salim Rosyid sempat diabadikan semasa hidupnya
BANTUL – Belum selesai proses pemu-langan warga eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) ke kampung halaman-nya, kini masyarakat Bantul kembali di-hebohkan dengan kabar tewasnya salah satu warga Sumbermulyo, Bambanglipuro bernama Salim Rosyid di Suriah. Dia berada di sana diduga karena bergabung dengan gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Dikabarkan, Salim berada di Suriah sejak 2014 silam
Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Bantul Yasmuri menilai, fenomena banyaknya warga Bantul yang bergabung dengan organisasi masyarakat (ormas) menyimpang, maupun gerakan radikal, merupakan pukulan telak. Perlu upaya so-sialisasi menyeluruh kepada masyarakat perihal berbagai gerakan yang tidak sejalan dengan filosofi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Fenomena ini menjadi pem-belajaran penting bagi masya rakat agar waspada,” ujar Yas muri, kemarin (27/1).

Kendati jumlah warga Bantul yang bergabung dengan Gafatar cukup banyak, serta ada yang masuk gerakan Negara Islam Iraq Suriah (NIIS) atau ISIS, pria yang juga ketua PCNU Bantul ini, tetap menampik bila kondisi keberagamaan di Bumi Projo Tamansari cukup rawan. Potensi bergabungnya warga dengan berbagai gerakan yang dilarang di NKRI tersebut, dinilai masih tidak terlalu tinggi. “Kalau pun ada yang bergabung, karena pengawasan keluarga dan masyarakat lemah,” ujarnya.

Yasmuri berpendapat, upaya sosialisasi perihal gerakan menyimpang tidak hanya men-jadi tanggung jawab ormas, dan organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama, Muham-madiyah atau Majelis Ulama Indonesia sekalipun. Sosiali-sasi serupa juga perlu dilakukan berbagai lembaga, seperti lem-baga pendidikan. Tujuannya, agar sasaran sosialisasi dapat menyeluruh.Di samping itu, masyarakat juga harus kooperatif. Masyara-kat perlu mengawasi berbagai potensi munculnya gerakan radikalisme di wilayahnya. Ter-masuk potensi muncul dan ber-kembangnya gerakan me-nyimpang. “Ini menjadi tanggung jawab kita semua. Semua harus was-pada. Terlebih, proses rekrutmen Gafatar maupun NIIS sangat canggih. Jarang masyarakat yang mengetahuinya,” ujarnya.

Senada Sekretaris Daerah Bantul Riyantono mengatakan, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) pernah mem-bahas persoalan Gafatar dan NIIS. Intinya, Forkompinda ber-kesimpulan untuk menangkal munculnya gerakan menyimpang maupun radikal, membutuhkan peran seluruh elemen masyara-kat. Para camat yang memiliki otoritas wilayah perlu mening-katkan kewaspadaan. RT maupun RW pun perlu menerapkan laporan bila ada tamu yang menginap di rumah warganya. “Karena proses rekrutmennya memang sangat canggih. Ada semacam cuci otak juga. Ber bagai langkah antisipasi harus kita lakukan,” katanya.

Saking canggihnya, Toni, sapaan akrabnya, mencontohkan, tidak sedikit eks anggota Gafatar di-kabarkan ada yang menjual berbagai harta benda miliknya untuk pergi meninggalkan kampung halamannya. Karena itu pula, Toni tak mengelak bila ada pihak yang menyebut Ka-bupaten Bantul kecolongan.Pada bagian lain, Polda DIJ belum tahu-menahu mengenai warga Bantul Salim Rosyid yang diduga gabung ISIS dan tewas di Suriah.

Namun diakui, sebelum-nya Polres Bantul melalui Kapol-res yang lama AKBP Surawan pernah menyebut ada dua war-ga Banguntapan dan Bambang-lipuro yang berangkat ke Suriah dan bergabung dengan ISIS. “Tapi keterangan itu belum kami konfirmasi ke sana. Juga belum ada informasi dari sana” kata Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda DIJ Kombes Pol Hudit Wahyudi ke-pada Radar Jogja, kemarin (27/1).Disinggung mengenai kebe-naran informasi keberangkatan dua warga Bantul ke Suriah, pi-haknya juga belum bisa banyak memberikan keterangan. “Iya kami harus cek dulu ke sana, sampai saat ini belum ada,” pung-kasnya. (zam/riz/ila/jko/ong)