Rochmat Wahab
SLEMAN – Tingginya angka per-salinan remaja dan kehamilan di luar nikah menjadikan keprihati-nan semua pihak. Tidak ter kecuali dari pihak pendidik dan akade-misi. Pemerintah dinilai perlu lebih tegas dalam membatasi akses ke situs-situs yang menyebar-kan konten porno
Rektor UNY Rochmat Wahab mengungkapkan, era IT (infor-masi dan teknologi) tidak diser-tai kesanggupan pemerintah untuk memproteksi konten-konten porno. Karena itu, setiap waktu anak tanpa batasan umur dapat meng-akses lewat manapun. îIni yang sangat memprihatinkan,î katanya kepada Radar Jogja, Kamis (28/1).Hal tersebut, menurutnya, ber-beda dengan yang terjadi di luar negeri, seperti Tiongkok.

Rochmat menyebut, sebelumnya Tiongkok dikenal sebagai negara yang ke-rap menayangkan film xxx di chanel televisinya. Namun, se-karang tidak ada lagi. îJadi mur-ni informasi dan hiburan atau dialog informatif. Jadi benar-benar diproteksi negara,î katanya.Hal itu terjadi karena revolusi yang dilakukan pemerintah Tiongkok dinilai menyeluruh dan tegas. Sehingga berbuah pada perlindungan warga ne-gara terhadap konten dan hal-hal yang berbau pornografi dan pornoaksi. Diceritakannya, bila sekitar lima tahunan lalu masih banyak layanan diskotek dan pijat plus-plus di beberapa ho-tel di Tiongkok, maka hal terse-but saat ini sangat jauh berkurang.îBahkan akses Yahoo juga tertutup betul. Mereka luar biasa dalam memproteksi. Hal itu ternyata mereduksi, me-ngurangi pelanggaran seksual remaja. Nah, di Indonesian tidak ada,î ungkapnya.

Namun begitu, pihaknya tidak serta-merta menyalahkan anak-anak dalam kasus tersebut. Dia menyebut, pada masa peralihan dari anak ke remaja rasa pena-sarannya tinggi. Sebab, masa itu merupakan transisi antara anak dan dewasa. îBisa mengakses, dan pasti selalu ingin coba-coba. Terlebih kalau bapak dan ibu sibuk. Ya, kami prihatin kalau di Jogja se-perti itu. Saya pikir di luar Jogja juga seperti itu,î katanya.

Oleh karena itu, dia mengha-rapkan, pendidikan karakter disertai gerakan moral dan re-volusi mental harus dilakukan di semua elemen masyarakat. Tidak hanya sekolah dan pe-merintah, namun seluruh pihak perlu dilibatkan. îSaya berharap nanti dalam sidang komisi Forum Rektor Indonesia muncul rekomen-dasi tersebut yang sifatnya dapat mengikat. Bukan hanya pemerin-tah, tapi informal sampai kelu-arga,î jelas Rochmat.Disinggung mengenai pendi-dikan seks di sekolah, Rochmat menyebut hal itu juga penting dilakukan. Pendidikan seks bisa dikemas dengan hal yang baik, dapat diterima para siswa serta tidak ada tafsiran-tafsiran. Se-bagai pengetahuan untuk mel-indungi remaja akibat perilaku seksual menyimpang.Menurutnya, pendidikan seks dan pendidikan karakter memang penting. Tidak harus melalui pen-didikan agama, tapi juga lewat pelajaran lain. îTapi yang lebih penting harus jadi visi bersama. Di Tiongkok buktinya bisa, maka-nya kita juga harus bergerak ber-sama, harus dimulai. Pak Jokowi kalau dapat memainkan moment-um saya rasa akan sangat bagusî tuturnya. (riz/ila/ong)