GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
RASKIN: Pekerja melakukan bongkar muat beras miskin (raskin) di Kelurahan Patehan, Jogja, kemarin (28/1). Pemkot menyalurkan bantuan raskin sebanyak 16.031 KK. Setiap RTSPM mendapat jatah rastra 15 kilogram yang dijual dengan harga Rp 1.600 per kilo.
JOGJA – Selama ini pemerintah mem-berikan beras miskin (raskin) setiap bulan. Namun, tahun ini diganti nama menjadi beras menuju sejahtera (rastra). Distribusi Rastra masih dilakukan Badan Urusan Logistik (Bulog). Untuk pertama kali, pendistribusian dilakukan di Ke-lurahan Patehan, Kraton, kemarin (28/1).Ada yang berbeda pada distribusi be-ras murah yang sekarang diistilahkan beras menuju sejahtera (rastra) tersebut. Pencairannya dilakukan menggunakan kartu khusus yang dibagikan di kelu-rahan. Kartu berisi data penerima raskin. Kartu hanya boleh digunakan pemilik sesuai nama yang tertera atau anggota keluarganya.îRastra ini kan untuk warga yang mem-butuhkan bantuan. Kami ingin me mastikan tepat sasaran. Mulai sekarang, setiap penerima jatah raskin akan mendapatkan kartu khusus. Sudah ada data by name dan alamatnya,î kata Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsos-nakertrans) Kota Jogja Hadi Muchtar.Ia melanjutkan, secara keseluruhan di Kota Jogja† ada 16.031 rumah tangga sasaran penerima manfaat (RTSPM). Setiap RTSPM mendapat jatah rastra 15 kilogram yang dijual dengan harga Rp 1.600 per kilo. îSebulan ada 240.465 kilo rastra yang didistribusikan untuk RTSPM di Kota Jogja,î terang Hadi.Hadi berharap, beras yang diterima tidak disalahgunakan dan tidak di-perjualbelikan. Mengingat penerimanya sesuai data dan masuk kategori ma-syarakat yang membutuhkan bantuan. îJangan dijual, dikonsumsi saja. Kua-litasnya juga baik. Karena berasnya kualitas medium,î harapnya.Kepala Bulog Divre DIJ M Sugit Tedjo Mulyono mengatakan, distribusi pertama rastra 2016 dilakukan di Kota Jogja karena daerah ini merupakan daerah paling tertib dalam pembayarannya. îJogja juga paling baik dalam pe laksanaan rastra. Dalam distribusi pertama juga terbaik bersama Jawa Barat,î katanya.Namun demikian, selama ini masih banyak masyarakat yang belum pagam dengan kondisi beras dari bulog. Tak sedikit yang mengeluhkan kualitasnya. Padahal, beras bulog tidak mengenal jenis beras selain standar kualitas.îBeras bulog itu kualitas medium. Jadi beras utuh 78 persen, broken 20 persen, dan dua persen menir. Kalau dibandingkan dengan beras yang ada di pasaran kalah menarik, karena beras bulog sebenarnya tidak untuk langsung dikonsumsi,î katanya. (eri/hes/ong)