DWI AGUS/RADAR JOGJA
MENGAPRESIASI: Dekan FKIP UST Jogjakarta Drs Bambang Trisilo Dewobroto MSn tengah melihat salah satu karya Hanung BY saat pembukaan di Posnya Seni Godod.
JOGJA – Guru seni rupa tidak hanya bertugas di dalam kelas sebagai pengajar. Seorang guru seni rupa wajib berkarya layaknya seniman pada umumnya. Ini disampaikan Dekan Fakul-tas Keguruan dan Ilmu Pendi-dikan Universitas Sarjana Wi-yata Tamansiswa (FKIP UST) Jogjakarta Drs Bambang Trisilo Dewobroto MSn saat pembu-kaan pameran di Posnya Seni Godod, Selasa malam (27/1).Menurut Bambang, setiap guru memiliki kesempatan yang sa ma berkarya. Tujuannya me-nga sah jiwa seni. Di sisi lain, se ba gai pengajar perlu menunju-kan eksistensi dalam berkarya. De ngan begitu bisa menginpi-rasi setiap anak didik yang akan di a suh nya.îSecara akademis dididik se-ba gai guru seni, tetapi punya hak berkarya. Bahkan wajib unjuk kar ya secara berkala. Bisa dikem-bang kan terus walaupun jadi gu ru juga jadi perupa,î kata De-wobroto.Ia mengapresiasi dua maha-siswanya yang berpameran. Keduanya tampil dengan sudut pandang masing-masing akan karya lukis. Ada pameran Pra Perjalanan karya Armansyah dan Hypothesis of Journey karya Hanung BY.Dewobroto menjelaskan, pa-meran seni rupa juga masuk program akademik kampus. Di mana setiap mahasiswa men-jalankan pameran sebagai wu-jud tugas akhir. Apresiasi men-dalam juga disampaikan olehnya. Karena dua mahasiswa tersebut berpameran di luar kampus.îDi FKIP, mahasiswa dihadap-kan dua pilihan untuk menyele-saikan tugas akhir. Apakah me-milih untuk menulis skripsi atau penciptaan karya. Selanjutnya, diwujudkan dalam pameran tunggal. Seperti yang dilakukan kedua mahasiswa ini,î tegasnya.Meski wujudnya pameran ber-sama, keduanya tetap berdiri sebagai pameran tunggal. Ar-mansyah hadir dengan delapan lukisan di lantai atas. Sedangkan Hanung BY mengusung sembi-lan lukisan di lantai bawah.Armansyah mengibaratkan Pra Perjalanan sebagai seorang anak. Di mana karya-karya yang di-hadirkan menceritakan perja-lanannya selama mengenyam pendidikan di FKIP UST. Berawal dari manusia biasa hingga menge-nal seni lukis seperti saat ini.îCerita perjalanan saya selama empat tahun ini mengenal seni lukis. Ini digambarkan seperti anak kecil yang tidak mengenal takut. Bebas bermain dan eks-plorasi atas apa yang dilihatnya. Seperti dalam salah satu karya saya yang berjudul Lingkaran-Lingkaran Kecil Lingkaran Besar,î jelas Armansyah.Sementara Hanung hadir dengan sudut pandang berbeda dalam Hypothesis of Journey. Karya ñ karyanya menggambar-kan sebuah pemikiran, pera-saan, pendengaran, penglihatan, yang terwujud dalam sebuah hypotesis. Dari pandangan awal inilah, ia merepresentasikan dalam wujud karya. Seperti salah satu karyanya yang berjudul Aku, Kursi, dan Kamu.Pemilik galeri Godod Sutejo menyambut positif pameran ini. Sebagai akademisi khususnya di bidang seni, wajib melestari-kan budaya kesenian. Di sisi lain, juga membongkar pandangan, seorang guru tidak bisa turut berkesenian. (dwi/hes/ong)