RIZAL SN/RADAR JOGJA
TIBA DI JOGJA: Lima orang eks Gafatar bergabung dengan empat orang yang sebelumnya telah tiba lebih dulu di Youth Center, Mlati, Sleman, kemarin (28/1

SLEMAN – Penampungan se-mentara eks Gafatar di Youth Center Tlogoadi, Mlati, Sleman kembali kedatangan penghuni baru. Kamis (28/1) pagi pukul 05.15 WIB, lima orang laki-laki eks anggota Gafatar tiba di tem-pat tersebut dari Surabaya, Jawa Timur. Dari kelimanya, 4 orang berasal dari Sleman dan satu lagi asal Kota Jogja
Dari informasi yang dihimpun Radar Jogja, kelima orang ter-sebut yakni M. Hadi Suparyono asal Sinduharjo Sleman, Eko Novianto, Dwiyanto Adi Nugro-ho, dan Dwi Adiyanto asal Nga-glik, Sleman, serta Achmad Ahadi Subroto asal Kota Jogja.Sebelumnya mereka sempat singgah sementara di Asrama Transito Disnakertransduk Pro-visi Jawa Timur, Jalan Margo-rejo 74 Surabaya. Mereka be-rangkat dari Kalimantan Barat pada 24 Januari 2016. Kepala Kesbangpol DIJ Agung Supriyono membenarkan hal tersebut. îIya mas, masuk Youth Center jam 05.00-an tadi, se-hingga saat ini yang sudah be-rada di Youth Center sembilan orang,î katanya kepada Radar Jogja, kemarin (28/1).Sebelumnya, sudah ada di tempat tersebut empat orang yang datang dari Jakarta. Me-reka satu keluarga, yakni pa-sangan suami istri Amri Cah yono, 35 dan Vita Yusni, 35 beserta dua anak mereka Ahmad Sa qila Muhtadi, 8 dan Bunga Ayu Megaputri, 4.Pada bagian lain, dengan terus berubahnya jumlah warga eks anggota Gafatar asal DIJ, mem-buat Pemerintah Provinsi (Pem-prov) DIJ kelabakan. Hal ini terkait dengan penganggaran dan penyiapan logistik bagi mereka. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIJ Agung Supriyono mengatakan, upaya penganggaran dana yang diperlukan dari proses penjem-putan hingga pemulangan para warga eks Gafatar, mengalami hambatan. îInformasi yang terus berubah-ubah, karena memang belum ada pendataan yang kon-kret, membuat kami bingung,î ujarnya, kemarin (28/1).Karena belum ada kepastian, Kesbangpol berinisiatif meng-gunakan dana talangan. îBismi-lah saja, yang jelas kemanusia-an diutamakan, dan kami punya niat baik bersama Dinsos. Wis piye lah, pokoke mlaku disik (Ya sudah lah, yang penting jalan dulu),î tandasnya.Menurut dia, saat ini masih terjadi perbedaan data warga DIJ eks Gafatar di Donohudan yang dirilis Pemprov Jawa Tengah dan Inafis. Jumlahnya ber variasi, antara 218 hingga 355 orang. Sementara di Youth Center saat ini sudah ada sembilan warga eks Gafatar.Jumlah tersebut, belum ter masuk informasi terbaru yang menyebut-kan ada 14 warga DIJ lagi yang masih ditampung di Jakarta. îJum-lahnya memang masih simpang siur, ini juga yang membuat kami pusing,î tandasnya.Selain itu, masih ada infor-masi sebanyak 1.281 warga eks Gafatar yang belum dipulangkan dan belum diidentifikasi lebih lanjut di Kalimantan Barat. Agung menduga, perbedaan ini dise-babkan tidak konsistennya pengakuan warga eks Gafatar dengan kartu identitas yang me-reka pegang. îAda yang ngaku orang Jogja, tapi KTPnya Mun-tilan atau Purworejo, ini jadi membingungkan,î lanjutnya.Sementara itu, terkait dengan warga eks Gafatar asal DIJ yang ada di asrama haji Donohudan Boyolali, sesuai jadwal hari ini (29/1) dijemput. Sebelum die-vakuasi ke Jogjakarta, di sana mereka akan diidentifikasi ulang guna mencocokkan data yang sudah diterima Pemprov DIJ. Pencocokan ulang tersebut, untuk meminimalisasi kemung-kinan adanya eks anggota Ga-fatar dari luar DIJ yang ikut ter-bawa ke DIJ. îYa kita lihat besok (hari ini), pastinya harus dicocokkan dengan data yang kami miliki,î ujar Agung.Gubernur DIJ Hamengku Bu-wono (HB) X juga berharap persoalan pendataan tersebut bisa segera selesai. Sebab, data tersebut untuk penanganan le-bih lanjut. îData yang akurat akan membantu kami dalam mengeluarkan kebijakan masa-lah eks Gafatar ini,î katanya, kemarin.Lebih jauh dikatakan, penanga-nan warga eks Gafatar ini tidak bisa jika diserahkan ke daerah saja, tapi perlu dukungan dari pemerintah pusat. îTerlebih dengan jumlah yang sangat ba-nyak,î ujarnya. HB X juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk me-nerima eks Gafatar dan mem-bimbing kembali. îMereka kan tetap bangsa kita sendiri, bukan orang asing. Kita tetap harus punya harapan kepada mereka,î tuturnya. (riz/pra/ila/jko/ong)