SLEMAN- Pemkab Sleman membantah keras disebut seba-gai daerah asal pemasok† oplosan daging sapi dan daging babi, khu-susnya yang beredar di wilayah Gunungkidul.Kabid Peternakan, Dinas Perta-nian, Perikanan, dan Kehutanan Suwandi Aziz menjamin, Sleman bebas dari daging oplosan ter-sebut. Namun, dia mengakui ada beberapa penjual daging babi di pasar tradisional. Di antaranya, di Prambanan, Gamping, dan Jalan Kaliurang.Aziz juga pernah mendapati dua orang pedagang daging sapi dan babi menjajakan dagangan secara berdampingan. Namun, kedua pedagang telah dibina dan diminta agar tidak berdampingan. îKalau (oplosan) berasal dari pen-jual, saya kira tidak ada,î ujarnya kemarin (28/1). Aziz menduga, jika memang ada pemasok daging oplosan asal Sleman, itu bukan berasal dari produsen. Kemungkinan besar dilakukan oleh konsumen (pembeli) sendiri. Dan bisa jadi, konsumen tersebut menjual kembali daging keluar daerah. îPengawasan di Sleman cukup ketat. Belum pernah ada (pen-jual) terdeteksi menjual oplosan,î tegasnya.Aziz memastikan, jika ada pe-dagang daging sapi menjual oplosan babi justru akan merugi. Kalau ketahuan akan di-black list oleh konsumen. Bakal tidak ada pembeli mendekat. Lebih dari itu, pedagang bersangkutan bisa dikucilkan oleh penjual da-ging lain karena dianggap me-rusak pasaran. îSelama ini kami memantau dari peternak sampai penjual. Tidak pernah ditemukan oplosan,î tandasnya.Jumari,47, pemasok daging sapi asal Turi mengaku resah dengan isu daging oplosan babi. Sebagian konsumen yang tidak paham ciri-cirinya pilih ganti haluan karena khawatir salah membeli. Secara kasat mata, dua jenis da-ging tersebut sulit dibedakan. Apalagi setelah dioplos. Bahkan, daging oplosan dike-tahui pemerintah setelah dilaku-kan uji laboratorium. îMasalah ini harus segera dituntaskan demi kenyamanan konsumen. Kami juga bisa merugi lebih banyak kalau dibiarkan berlarut-larut,î katanya. (yog/din/ong)