SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
SANTAI: Salah satu warga eks Gafatar yang sudah tiba di camp penampungan di Gedung Youth Center, kemarin (28/1).
PEMKAB Sleman dan Bantul yang diinformasikan memiliki banyak warga eks anggota Gafatar, terus menyiapkan diri untuk menerima atau menjemput me-reka setelah nanti keluar dari penampungan sementara di Youth Center. Data sementara menunjukkan sebanyak 98 warga dari total 338 orang yang dijemput dari Asrama Haji Do-nohudan, Boyolali adalah war-ga Sleman. Sementara warga Bantul sebanyak 50 orang.Penjabat Bupati Sleman Gatot Saptadi memperkirakan, separo dari jumlah eks anggota Gafatar asal Sleman, yang benar-benar tak memiliki keluarga dan aset untuk ditinggali. Mereka akan ditampung lagi di Panti Remaja
Sementara sisanya akan dikem-balikan ke keluarga masing-masing. îTapi masih kami data,î katanya.Nantinya, mereka yang ditam-pung lagi di Panti Remaja, ba-kal memperoleh jatah hidup (Jadup). Namun, jadup tidak diberikan saat di penampung-an, tapi setelahnya. ìSetidaknya, sampai ada kebijakan terbaru mengenai keberlanjutan per-lakuan bagi mereka,î tandasnya. Dalam hal tersebut, Pemkab Sleman akan berkoordinasi dengan Pemprov DIJ. Kepala Dinas Tenaga Kerja, Sosial, dan Transmigrasi Kabu-paten Sleman Untoro Budihar-jo menuturkan, langkah awal penanganan eks Gafatar berupa pemetaan masalah. Dia meya-kini, permasalahan setiap orang berbeda-beda, sehingga pende-katannya juga harus menyesu-aikan. îDari situ akan diketahui berapa jumlah yang harus di-kembalikan ke keluarga, dan ditampung lagi,î tuturnya.Untoro menambahkan, pemerin-tah tak bisa memaksa eks Gafatar untuk kembali ke keluarga masing-masing. Itu menjadi îPRî pemerin-tah ke depan agar eks Gafatar tidak menjadi masalah baru, baik bagi pemerintah, masyarakat, maupun yang bersangkutan. îLangkah jangka panjang masih kami ru-muskan. Sekarang fokus penanga-nan di penampungan dulu,î ucap Untoro.Persiapan yang sama juga dila-kukan Pemkab Bantul. Bahkan Pemkab Bantul telah memper-timbangkan kebijakan trans-migrasi lokal (translok) bagi eks anggota Gafatar. Pejabat Bupati Bantul Sigit Sapto Rahardjo tidak menutup mata bila tidak semua eks ang-gota Gafatar bersedia kembali ke kampung halamannya. Ada sejumlah faktor yang dikhawa-tirkan menjadi penyebab me-reka enggan pulang dan dan tinggal di kampung halamannya. Misalnya, ada penolakan dari masyarakat sekitar, atau sudah tidak memiliki harta benda lagi di kampungnya. îIni yang perlu kita pikirkan. Saya punya ide bagaimana kalau kita gulirkan translok,î terang Sigit di ruang kerjanya, kemarin (28/1).Namun demikian, Sigit akan berkoordinasi dengan Pemprov DIJ terkait realisasi program trans-lok ini. Sebab, selain persoalan ketersediaan tanah yang men-jadi calon lahan translok, program ini juga menyangkut seluruh eks anggota Gafatar dari seluruh kabupaten/kota se-DIJ.Sigit berpendapat, program translok sangat tepat bagi eks ang-gota Gafatar yang tidak dapat kembali ke kampung halamannya. Selain faktor kemanusiaan, me-lalui program translok ini pemerin-tah DIJ, khususnya pemkab Ban-tul akan lebih mudah membina sekaligus mengawasi mereka. îLokasinya di Bantul saja. Mungkin bisa memanfaatkan tanah sultan ground,î ujarnya.Terkait anggaran pemulangan dan pembinaan eks anggota Gafatar selama di SKB, bekas Kepala Disnakertrans DIJ ini menegaskan, pemkab ternyata telah memiliki anggaran. Sejum-lah program di Dinas Sosial akan dialokasikan untuk pembinaan eks anggota Gafatar.Senada disampaikan Sekreta-ris Daerah Bantul Riyantono. Menurutnya, kebijakan translok masih sebatas alternatif. Sebab, belum tentu eks anggota Gafatar bersedia mengikuti program ini. îYang jelas akan kita tangani semaksimal mungkin,î katanya.Toni, sapaan akrabnya, me-nyebutkan,, jumlah eks ang-gota Gafatar yang telah teriden-tifikasi sebagai warga Bantul berjumlah 50 orang. Sebetulnya, ada 33 eks anggota Gafatar lagi yang mengaku sebagai warga Bantul. Tetapi, mereka belum dapat menunjukkan bukti iden-titas kependudukan. îNanti akan kami data ulang dan mencari tambahan informasi sesampai-nya mereka di Youth Center,î paparnya.Rencana awal, eks anggota Gafatar akan ditampung di ge-dung SKB setelah tiga hari be-rada di Youth Center. Selama tiga hari di SKB, eks anggota Gafatar akan mendapatkan pem-binaan lagi dari pemkab. Pem-binaan meliputi psikologi, reli-giusitas, dan kewarganegaraan.Pada saat yang bersamaan, pem-kab juga akan berkoordinasi dengan keluarga dan masyarakat asal eks Gafatar. Ini untuk me-mastikan apakah eks anggota Gafatar dapat pulang dan tinggal di kampung halamannya lagi atau tidak. (yog/zam/ila/jko/ong)