GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
MELAWAN NYAMUK: Asisten peneliti dari tim Eliminate Dengue Project Jogjakarta meneliti bangkai nyamuk Aedes Aegypti di Insektarium Pusat Kedokteran Tropis UGM, Kamis (28/1).

SLEMAN – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jogjakarta masih ter-bilang tinggi. Data Dinas Kesehatan DIJ per Agustus 2015, ada sebanyak 2.146 kasus DBD. Dari angka tersebut, 27 orang di antaranya meninggal dunia.Melihat hal itu, Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran UGM akan menyebarkan nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia di Kota Jogja. Sebelumnya, proyek tersebut telah dilakukan di Sleman dan Bantul
Peneliti Utama Eliminate Den-gue Project Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran UGM Adi Utarini menjelaskan, Wol-bachia merupakan bakteri ala-miah dari 60 hingga 70 persen serangga liar. Seperti juga lalat buah, capung, dan jenis serang-ga lain. Dari penelitian yang sudah dilakukan, nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia dinilai sudah aman bagi manusia dan lingkungan.Sebelum disebarkan, nyamuk Aedes Aegypti lebih dulu di-hilangkan virus Dengue-nya dengan cara memasukkan bak-teri alami Wolbachia. Bakteri Wolbachia vmemiliki fungsi memproteksi virus Dengue. Caranya, peneliti menyuntikkan bakteri Wolbachia ke dalam ny-amuk Aedes Aegypti betina. Se-telah bakteri itu masuk, kemu-dian nyamuk dikembangbiakan dengan cara perkawinan silang. Dijelaskan, jika Aedes Aegypti ber-Wolbachia betina kawin dengan nyamuk jantan biasa maka akan menghasilkan ketu-runan nyamuk ber-Wolbachia. Sedangkan jika nyamuk jantan ber-Wolbachia kawin dengan nyamuk biasa maka telurnya tak dapat menetas.Dia menuturkan, project pe-nelitian timnya sudah dilakukan mulai 2011 di Bantul dan Sleman. Penyebaran nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbacia dilakukan dengan meletakkan telur nyamuk pada ember kecil. Telur nyamuk tersebut kemudian ditunggu sampai 12 minggu. îLalu di-lakukan pemantauan Wolbachia-nya, demam, DBD, dan respons masyarakat,î katanya kepada wartawan di UGM, Kamis (28/1).Menurutnya, dalam dua tahun penelitian pertama berfokus pada keamanannya. Setelah diketahui aman, lanjutnya, pe-lepasan berskala terbatas dila-kukan. Adi mengklaim, hasil penelitian timnya hingga De-sember 2015, sebanyak 80-90 persen nyamuk di masyarakat sudah mengandung Wolbachia.Menurut Adi, nyamuk Aedes Aegypti ber-Walbachia memi-liki kemampuan menekan virus Dengue yang masih sama se-perti saat pencobaan di labora-torium. îJika nyamuk menggigit, kemungkinan penyebaran virus Dengue kecil. Respons masy-arakat cukup nyaman, terutama dalam pelepasan telur nyamuk,î ujarnya.Penelitian serupa juga dilaku-kan oleh empat negara lain, yakni Australia, Vietnam, Kolombia, dan Brazil. Namun, menurutnya, penelitian UGM di Jogjakarta yang memiliki po-sisi terdepan diantara empat negara itu. Bahkan, lanjut dia, Vietnam masih memastikan keefektifan nyamuknya.Pertengahan 2016, tim pene-liti Pusat Kedokteran Tropis itu menyiapkan penyebaran nyamuk Aedes Aegypti ber-Walbachia di Kota Jogja. Penelitian yang akan dilakukan hingga 2019 itu sekarang dalam tahap intensi-fikasi komunikasi dengan masyarakat.îKami akan memperhatikan kerapatan penduduk dan me-metakan mobilitas penduduk. Untuk membuktikan apakah bisa menurunkan kasus dengue di semua wilayah yang diletak-kan telur, kita membutuhkan wilayah pembanding. Perkiraan, 40 persen wilayah Kota Jogja akan kita letakkan telur,î katanya.Mantan Kepala Dinas Kesehatan DIJ Arida Oetami berharap, pene-litian dilakukan UGM bisa mem-bantu program pemerintah me-nurunkan kasus DBD. îKarena kasus DBD tak pernah ada penu-runan,î ungkapnya. (riz/ila/ong)