RYZA WIJAYANDA NUGRAHA
BANYAK TRIK: Anggota komunitas Kendama Yk ketika memainkan permainan tradisional asal Jepang ini di Tugu Jogja untuk menarik perhatian anak muda.

Belum Terlalu Populer, Jamming Tiap Rabu dan Minggu

Permainan uji ketangkasan Kendama mulai merambah anak muda di Jogja. Mempelajari trik-trik permainan asal negeri Sakura ini tidak mudah, dibutuhkan ketelatenan dan latihan rutin. Seperti yang dilakukan anak-anak muda yang bergabung dalam komunitas Kendama Yk. Lantas bagaimana cara memainkannya?
RYZA WN, Jogja

KENDAMA merupakan permainan tradi-sional dari Jepang yang sudah dilombakan secara nasional di Indonesia. Hanya, di Jogja permainan ini belum terlalu dilirik. Baru sebagian anak muda saja yang tertarik dengan permainan yang mengandalkan ketangkasan tangan ini.Kendama terdiri dari tongkat pendek yang memiliki tiga mangkuk dengan ukuran ber-beda yang disebut ken (dalam bahasa Jepang berarti pedang), dan bola yang memiliki lubang disebut tama. Ken dan tama disambungkan dengan tali untuk memungkinkan para peng-gunanya melakukan trik-trik dalam bermain.

Permainan ini dikenalkan ke masyarakat Jogja oleh komunitas Kendama Yk yang di-pelopori oleh Denny. Pria berkaca mata ini menjelaskan, dia tertarik dengan Kendama setelah melihat pertunjukan anak-anak mu-da yang memainkan berbagai trik di internet. Terlebih, permainan Kendama ini sudah populer di sejumlah negara sehingga infor-masi terkait permainan ini sangat mudah didapatkan
Berangkat dari penasaran, lan-tas Denny mencoba mencari Kendama.

Namun, kala itu, se-kitar pertengahan 2014, belum ada yang menjualnya di Jogja. Denny lantas mencari di internet dan membeli dalam jumlah yang cukup banyak.îYa harapannya bisa mendapat teman bermain, dan memuda-hkan mereka untuk mendapat-kan Kendama. Karena memang di Indonesia, terutama di Jogja belum banyak yang menjualnya,î ungkapnya belum lama ini.Kendama sudah di tangan, namun Denny tak juga menda-patkan teman bermain. Lantas, Denny pun mencoba mencari teman yang tertarik bermain Kendama di dunia maya. îSaya coba nyari teman yang punya minat sama di media sosial, khu-susnya Instagram.

Ya, akhirnya saya ketemu beberapa teman yang main Kendama,î ungkapnya.Setelah menemukan teman sesama penggemar Kendama, Denny kopi darat dan bermain bersama. Latihan rutin juga di-gelar. Karena sering berlatih bersama ini pula, tercetuslah nama Kendama Yk.îDi Jogja permainan Kendama memang masih asing. Bahkan untuk mencari Kendama masih sulit, dan harganya juga relatif mahal. Berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 800 ribu,î ungkapnya.

Denny mengungkapkan, komu-nitas ini mencoba untuk menge-nalkan Kendama ke anak-anak muda yang lain. Juga meman-faatkan kelangkaan Kendama untuk berbisnis. îKendama di Jogjakarta mulai berkembang, tapi terbilang lambat. Kami memainkan Kendama di ruang publik, sehingga banyak yang melihat. Siapa tahu dari melihat lantas tertarik,î ungkapnya.

Sebelum dikenalkan di Jogja-karta, Kendama sudah lebih dulu dimainkan anak-anak muda di kota-kota besar se-perti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Samarinda. Pegiat Komu-nitas Kendama Yk lainnya Jali-dur menambahkan, bagi seba-gian orang membeli mainan kayu dengan harga ratusan ribu me-mang terbilang sangat mahal. Ada juga orang yang berang-gapan bisa membuat Kendama sendiri. Meski, pada kenyataan-nya untuk membuat Kendama tidaklah mudah. îHarus punya keahlian khusus,î tuturnya.

Dia mengungkapkan, Ken-dama baginya bukan hanya sekadar permainan. Tetapi juga menjadi olahraga. Sebab, saat memainkannya badan ikut ber-gerak. îBadan kita gerak semua, jadi keringetan sama seperti orang olahraga,î ungkapnya.Menurutnya, Kendama juga melatih ketekunan dan fokus. Untuk mempelajari satu trik Ken-dama tidak mudah, tetapi ketika berhasil dengan satu trik akan menjadi pelontar untuk treus bermain dan mencoba trik baru. Dalam perkembangannya, Komunitas Kendama Yk memi-liki anggota sekitar 20 orang.

Diakuinya, memang terbilang lamban perkembangannya untuk suatu komunitas. Kendati begitu, komunitas ini tak pantang me-nyerah untuk mengenalkan per-mainan ini ke anak muda Jogja.îSetiap Rabu sore dan Minggu pagi kami mengadakan jamming (bermain bersama) dengan berpindah-pindah tempat, se-perti di Titik Nol dan Tugu Jogja,î ungkapnya. (ila/ong)