SLEMAN – Sebagaimana yang dijadwalkan, sebanyak 236 warga eks anggota Gafatar asal DIJ sampai di Youth Center, Tlogoadi, Mlati, Sleman, Jumat (29/1) sore. Mereka diangkut dengan lima bus dari Asrama Haji Donohudan Boyolali, dan sampai di penampungan pukul 15.35 WIB. Dengan kedatangan mereka, saat ini di Youth Center sudah terdapat 245 orang, karena sebelumnya 9 eks anggota Gafatar telah datang duluan dengan naik pesawat.

Pengamanan ketat terlihat saat pengawalan pihak kepolisian dari Donohudan, Boyolali ke Youth Center. Beberapa anggota Brimob Polda DIJ menggunakan senjata laras panjang ikut dalam rombongan. Di Youth Center, mereka akan menjalani karantina selama tiga hari untuk pendataan dan proses reradikalisasi.

Salah seorang eks anggota Gafatar asal Sleman dan merupakan mantan pengurus Gafatar Jogjakarta, Dwiyanto, 32, mengatakan, meskipun telah dipulangkan ke tempat asalnya, sebenarnya dia mengaku lebih ingin tetap di Mempawah, Kalimantan Barat.

Dwiyanto menegaskan, setelah sampai di penampungan sementara di Youth Center, Tlogoadi, Mlati Sleman, dia mengaku bingung mau melanjutkan hidup. “Harta benda kami sudah habis, sementara pemerintah belum memberikan solusi yang jelas,” ujarnya.

Dwiyanto menambahkan, dia dan teman-temannya merasa tidak bersalah dan tidak sesat. Di Kalimantan pun, mereka juga hanya ingin mengubah nasib agar lebih baik. “Kami tidak sesat, kami ingin mengubah nasib,” katanya.

Saat ditanya tentang statusnya di Gafatar, dia mengaku sebelum ke Mempawah Kalimantan Barat, sebagai mantan pengurus Gafatar Jogjakarta. “Saya sebelumnya pengurus Gafatar Jogjakarta, saya orang Jogjakarta,” ungkapnya.

Lebih jauh dia menceritakan, dia berangkat ke Kalimantan sejak Agustus 2015. Sesampainya di Mempawah, dia membuka lahan pertanian bersama 329 orang eks Gafatar asal Jogjakarta. Namun sayang, belum sempat memanen padi yang ditanamnya, dia bersama para eks Gafatar lainnya diusir dengan paksa oleh orang-orang yang menurut Dwiyanto bukan berasal dari Mempawah.

“Hidup kami menjadi terusik. Kini, kami masih bingung. Tidak tahu harus bagaimana melanjutkan hidup, karena semua harta benda sudah dijual untuk modal hijrah ke Kalimantan,” akunya.

Dwiyanto pun menolak fatwa MUI Kalimantan yang menyatakan Gafatar itu sesat dan menyesatkan. Menurutnya, Gafatar adalah organisasi kemasyarakatan. “Mantan pengurus Gafatar juga sudah mengirim surat kepada MUI Kalimantan untuk melakukan audiensi. Tapi, sampai sekarang belum ada jawaban,” jelasnya.

Dia berharap, agar pemerintah turut bertanggung jawab atas hilangnya harta benda eks Gafatar, dan memberi solusi agar mereka bisa melanjutkan hidup. “Kami butuh solusi konkret, ini demi kelangsungan hidup keluarga kami,” pungkasnya.

Sementara itu, Dinas Sosial DIJ menggunakan istilah deradikalisasi untuk pemulihan eks Gafatar. Istilah tersebut dipilih lantaran Dinsos menganggap yang terjadi di Kalimantan Barat bukan bencana alam, tetapi bencana sosial.

Kepala Dinas Sosial DIJ Untung Sukaryadi mengatakan, istilah deradikalisasi ini hanyalah sebatas istilah. Namun dalam praktiknya hanya akan ada pendampingan psikologis dan trauma healing untuk para eks Gafatar yang mengalami bencana sosial di Kalimantan Barat tersebut. “Itu hanya istilah. Memang bahasanya seperti itu, deradikalisasi, bukan rehabilitasi,” katanya pada Radar Jogja, Jumat (29/1).

Dia membantah jika istilah tersebut digunakan untuk mengatakan jika anggota eks Gafatar adalah anggota ormas radikal. “Bukan wilayah dinas sosial untuk mengatakan Gafatar radikal atau tidak. Wilayah kami wilayah sosial,” tandasnya.

Untung mengatakan, masalah ikstilah tersebut tak perlu diperdebatkan, yang terpenting saat ini adalah penanganan mereka di penampungan sementara.

Dikatakan, sebelumnya sudah ada 9 warga DIJ yang telah berada lebih dulu di Youth Center. Kesembilannya merupakan eks Gafatar yang menempuh jalur udara dari Kalimantan. Sementara itu, 236 Eks Gafatar lainnya tiba Jumat (29/1) kemarin dari Boyolali.

“Setelah sampai nanti ya biar istirahat dulu. Besok baru ada kegiatan. Selama tiga hari akan di sini, setelah itu kita serahkan ke kabupaten masing-masing,” terangnya.

Dijelaskan, Dinsos menjamin gizi para eks Gafatar selama dalam deradikalisasi. Konsumsi yang dijanjikan merupakan menu makan 4 sehat 5 sempurna. “Jelas kita di sini ada dapur umum. Tagana yang mengurusi soal menu makannya. Menunya 4 sehat 5 sempurna. Ada susu juga untuk anak-anak, pokoknya terjamin ” katanya.

Tak hanya itu, pengambilan makannya juga dibebaskan dengan sistem prasmanan. “Kalau makannya kita sistemnya prasmanan, tidak lagi nasi kotak. Mereka akan mendapat jatah makan tiga kali sehari,” tuturnya.

Janji menu yang baik itu juga sudah direalisasikan begitu mereka tiba di Youth Center. Setelah meletakkan barang-barang bawaan dan menempati ruangan, mereka lalu dipersilakan makan. Ada sayur sop, sayur kacang, tempe goreng, telur bulat dan teh panas. Semua itu merupakan hasil kerja para anggota Tagana. Tak lupa buah dan susu bagi anak-anak juga terlihat. (riz/jko/ong)