Bukan Warga DIJ Ingin Dipulangkan ke DIJ

Setelah perjalanan panjang dari Mempawah, Kalimantan Barat, warga eks anggota Gafatar asal DIJ akhirnya tiba di Jogjakarta. Bukan perkara mudah untuk memulangkan ratusan orang tersebut. Setelah melalui koordinasi panjang, Pemprov DIJ akhirnya bisa membawa mereka ke Youth Center Sleman.

Heru Pratomo, Boyolali

BERUSAHA mendekati rombongan eks Gafatar asal DIJ yang sudah mulai naik ke bus, seorang bapak, yang meminta disebut Z saja, meminta supaya dirinya bersama istri dan lima putrinya, diikutkan dalam rombongan. Kepala Dinas Sosial (Dinsos) DIJ Untung Sukaryadi, yang dimintai tolong pun menolaknya dengan halus, “Mohon maaf pak, kami hanya membawa yang dari DIJ saja. ”
Dalam data pengecekan inafis, Z beserta istrinya memiliki KTP Palembang Sumatera Selatan. Tapi dirinya menolak dipulangkan ke Palembang dan meminta untuk diikutkan ke DIJ. Z beralasan, masih memiliki kerabat dari istrinya yang tinggal di Suronatan, Jogja. Masa kecilnya juga dihabiskan di Jogja. “Masih ada bibi di Jogja,” lanjutnya beralasan.

Selain itu, keinginanya untuk ikut ke Jogja, karena merasa tidak enak jika pulang ke Palembang. Sebab, meski masih memiliki rumah di kota pempek tersebut, tapi takut tidak diterima masyarakatnya di sana. Terlebih dengan pemberitaan tentang Gafatar yang masif di media.

Menurut dia, di Jogja masyarakatnya dianggap lebih toleran. “Di Jogja lebih toleran, masyarakatnya lebih menerima perbedaan,” ungkapnya.

Z dan keluarganya, yang hanya membawa satu ember bantuan PMI dan satu tas tersebut pun kembali ke penampungan. Z mengisahkan, dirinya meninggalkan Palembang ke Kayong Utara, Kalimantan Barat, sudah sekitar enam bulan. Dirinya yang bekerja sebagai wiraswasta di Palembang, selama di Kalimantan bekerja sebagai pemasaran produk pertanian. “Ya memasarkan timun, gambas, karena harganya cukup tinggi di sana,” ujarnya.

Permasalahan seperti Z dan keluarganya tersebut memang sedikit menghambat proses pemulangan eks Gafatar asal DIJ dari Donohudan Boyolali. Rombongan asal DIJ sebenarnya mendapat prioritas untuk dipulangkan. Begitu rombongan penjemput dari DIJ sampai di Donohudan, warga eks Gafatar asal DIJ tersebut langsung dinaikkan ke bus.

Tapi ternyata, tidak semudah itu. Data yang diberikan Pemprov Jawa Tengah, ternyata tidak semuanya asal DIJ. “Ini yang buat pusing, datanya berubah terus,” ujar Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIJ Agung Supriyono, yang sudah di Donohudan sejak Kamis (28/1).

Dari 218 data per Kamis malam, ternyata membengkak menjadi 256. Setelah dicek kembali, akhirnya hanya 236 yang dibawa pulang ke Jogjakarta. Agung menegaskan, pihaknya tidak ingin kehilangan maupun kelebihan warga eks Gafatar yang dibawa ke Youth Center.

Persoalan pendataan tersebut yang juga membuat proses pemulangan menjadi terlambat, tertunda hingga hampir tiga jam. Dalam perjalanan pulang, rombongan juga beberapa kali terhenti karena insiden dengan pengguna jalan lain. Termasuk harus mengalah pada rombongan Presiden Jokowi yang sedang berkunjung ke Jogja.

Suminah merupakan salah satu di antara 236 warga eks Gafatar asal DIJ yang dipulangkan kemarin. Warga Kota Jogja tersebut pulang bersama suami dan dua anaknya. Suminah mengaku sebenarnya sedih meninggalkan Kalimantan. Dirinya juga menyatakan keprihatinannya atas aksi kekerasan di Mempawah Kalbar, yang membakar harta benda warga eks Gafatar. “Sedih kami tidak salah apa-apa kok rumah dibakar, harta dirampas. Sekarang tidak punya apa-apa lagi,” tuturnya.

Harapan yang sama juga diungkapkan Giyanto asal Mlati, Sleman. Setelah kembali ke DIJ, dirinya berharap nantinya bisa kembali ke Kalimantan melalui program transmigrasi, karena sudah tidak memiliki apa-apa lagi di DIJ.

Saat diwanwancara awak media, Giyanto sambil menggendong putra keduanya, mengatakan jalan satu-satunya menyelamatkan masa depan anak cucu dengan bertani. “Bencana moral, sosial ada dimana-mana, jika terjadi nantinya wilayah pertanian akan hancur dan menyebabkan chaos,” ungkapnya. (bersambung/jko/ong)

SAMBUNGAN:
Merengek Dipulangkan ke Kalimantan Lagi