JOGJA – Budaya tertib di Kota Jogja masih jauh dari harapan. Sebagai contoh soal parkir di Malioboro. Meski sudah ada larangan parkir di sisi barat Malioboro, namun pengunjung Malioboro tetap saja memarkir kendaraannya di sana.

Itu lah yang kini tengah menjadi perhatian utama Pemkot Jogja dalam menata Malioboro.

Penataan jangka panjang ikon pariwisata di Kota Jogja itu adalah sebagai kawasan pedestrian. “Langkah pertama memang kami bangun terlebih dahulu kesadaran berlalu lintas. Kalau di sana (sisi barat) adalah terlarang untuk parkir,” ujar Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti, kemarin (29/1).

Untuk menumbuhkan kesadaran, telah dipasang pagar portabel sejak beberapa pekan terakhir. Untuk menguji kesadaran warga yang sudah berlangsung selama pemasangan pagar portabel, pagar tersebut mulai dicopot. “Kami copot terlebih dahulu, untuk melihat sejauh mana kesadaran masyarakat,” ujar HS.

Pagar portabel ini telah tercopot di sisi barat sejak Jumat (29/1) kemarin, setelah terpasang sejak malam pergantian tahun baru. Ditegaskan, pencopotan ini bukan atas tekanan publik. Pihaknya melepas pagar itu sesuai dengan namanya portabel, sehingga bisa dilepas sewaktu-waktu melihat kebutuhan.

“Kalau nanti tidak tertib lagi. Ya dipasang lagi. Berarti masyarakat di Malioboro belum sadar akan larangan parkir di sana,” tambahnya.

Selama akhir pekan ini, pihaknya akan memantau ketertiban di Malioboro. Jika ternyata masih terlihat semrawut, maka tidak menutup kemungkinan pagar portabel tersebut dipasang kembali.

Diakuinya, pemasangan pagar di Maliboro, meskipun portabel, secara estetika memang mengurangi keindahan Malioboro. Tapi sebagai bagian dari rekayasa untuk membangun kesadaran, perlu mempertimbangkan kebutuhan pada saat-saat tertentu yang kadang kurang indah.

HS menegaskan, jika kesadaran masyarakat terhadap ketertiban di Malioboro tinggi, penataan sebagai kawasan pedestrian bakal sukses. Pihaknya tak mau penataaan Malioboro yang nantinya memindahkan parkir kendaraan di sisi timur ke Taman Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali sia-sia.

“Malah pindah ke sisi barat. Kan malah menimbulkan masalah baru. Ya, kami pasang pagar untuk menjaga Malioboro nyaman bagi pejalan kaki,” tambahnya.

Ketua Komisi C DPRD Kota Jogja Cristiana Agustina menyarankan, agar dilakukan sosialisasi yang masif untuk penataan Malioboro. Sosialisasi bisa berupa pemasangan rambu-rambu atau langsung oleh petugas.

“Sebenarnya perlu ada kerja sama dengan kepolisian. Karena di sana larangan parkir, polisi bisa langsung menindak. Masak kalau ditilang terus-terusan tetap tak mau tertib,” tandasnya.

Ini juga agar estetika di Malioboro bisa lebih indah. “Kalau koordinasi dengan kepolisian jalan, kami yakin, ini bisa berjalan lancar,” harapnya. (eri/jko/ong)