SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
TELATEN: Penyemaian bibit tanaman palawija di Wedomartani, Ngemplak. Proses penyemaian bibit tanaman seperti cabai, terong, dan sayuran membutuhkan ketelatenan untuk mendapatkan bibit tanaman yang berkualitas. Di beberapa wilayah di Sleman semakin banyak petani yang menanam tanaman selain padi

SLEMAN – Kondisi cuaca di Indonesia beberapa tahun ini tidak menentu. Hal ini ikut memengaruhi perubahan pola tanam sebagian besar petani di Jogjakarta. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan tanaman pokok seperti padi, namun juga palawija seperti sayuran dan cabai.Saat ini, sebagian petani di sejumlah daerah di Sleman, tak lagi menunggu musim kemarau untuk menanam palawija. Ini dilakukan, mengingat pada kenyataannya di musim hujan kali ini, hujan teramat minim. Tak ingin sekadar menunggu hujan sebagian petani lalu menanam berbagai jenis palawija se-perti cabe rawit, terong, dan sejenisnya.Suparman, penjual bibit tanaman palawija di desa Wedomartani, Ngemplak mengatakan, kendati sekarang ini masuk musim penghujan, pembelian bibit ta-naman cukup tinggi. Menurutnya, hal itu karena kesadaran para petani yang tidak lagi menggantungkan komoditas pokok seperti padi dan jagung. Ia menga-takan, saat ini bahkan banyak para pe-tani membeli bibit cabe rawit terong dan mentimun untuk ditanam secara tumpang sari di sela tanaman padi.Menurut Suparman, maraknya sebagian petani yang menanam palawija di musim penghujan merupakan trend baru saat ini. Namun demikian, trend perubahan pola tanam tersebut tidak serta-merta mendongkrak jumlah penjualan bibitnya secara signifikan. Ini karena saat ini juga karena masih dalam masa tanam padi. “Di hari-hari biasa seperti ini, penjualan bibit hanya sebanyak 2.000-3.000 biji per hari. Kalau cuaca mendukung dan harga jual sayuran dan palawija bagus, penjua-lan bibit juga akan bagus”, katanya.Namun demikian, lanjut Suparman, naiknya harga sayuran dan cabe tidak berpengaruh pada harga jual bibit. Harga jual bibit dalam keadaan apapun, menurut Suparman, sangat jarang meng alami ke-naikan harga. Kecuali kalau sedang lang-ka karena jumlah permintaan yang tinggi. Saat ini harga jual bibit tanaman cabe Rp 150 per batang dan terong Rp 100 per ba-tang. Harga tersebut bisa lebih murah kalau membeli dalam jumlah banyak.Suparman sudah puluhan tahun bergelut di bidang penjualan bibit tanaman. Sejak lulus sekolah dari Akademi Farm (AK FARM) di Semarang, Jawa Tengah, tahun 1993, Suparman sudah bekerja di bidang usaha pupuk di Jakarta. Sekarang, AK FARM men-jadi Sekolah Tinggi Ilmu Kejuruan Farm (STIK FARM). Lalu sejak 2006, Suparman membuka usaha penjualan bibit tanaman di rumahnya desa Wedomartani.Tak hanya bibit dalam bentuk siap tanam, Suparman juga menyediakan bibit dalam bentuk biji. Namun, para petani lebih suka membeli bibit siap tanam karena bisa menekan biaya kerja. Suparman mengaku tak ada kendala berarti dalam menjalankan bisnis bibit tanaman. Untuk merawatnya hanya perlu menyiramnya dan menyemprotnya dengan cairan anti hama, dan itu pun tidak setiap hari.Sementara itu, Suparman melakukan penyemaian bibitnya di Magelang, Jawa Tengah. Menurutnya, karena di tempat itu biaya tenaga kerja masih murah dan ketersediaan tanah gembur dari pegunu-ngan untuk media tanam juga banyak. Dalam sehari, Suparman membutuhkan dua truk tanah gembur dari pegunung-an untuk menyemai kurang lebih 300 ribu bibit. Selain menyediakan bibit lokal, Suparman juga menyediakan bibit impor yang menurutnya dari aspek kualitas memang lebih bagus.”Bibit import bisa bagus karena mereka lebih selektif dalam memilih gen. Tapi harganya lebih mahal,”jelasnya. (sky/din/ong)