GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
DITUNGGU: Penyaluran beras untuk keluarga sejahtera (rasta) diharapkan tepat sasaran.
GUNUNGKIDUL – Hingga sekarang data riil angka kemiskinan di Gunungkidul masih diang-gap tidak up to date. Fenomena itu terlihat dari jumlah warga penerima beras untuk kelu-arga sejahtera (rasta).Peneliti dari Institute for Development and Economic Analysis (IDEA) Jogjaa Tri Suci Wu-landari mengatakan, sejak tahun 2013 hingga sekarang penerima rastra tidak mengalami perubahan. Data warga miskin versi Badan Pusat Statistik (BPS) dilakukan tiga tahunan. Kondisi ini seringkali menjadikan data dinamis warga miskin tidak sesuai kenyataan di lapangan. “Kami berusaha mendorong ada upaya penda-taan warga miskin yang dilakukan tidak tiga tahunan, namun enam bulanan. Dengan demikian data akan valid,” kata Tri Suci kemarin (31/1).Dia menjalaskan, realita di lapangan penerima manfaat berbagai program untuk keluarga miskin justru memicu kecemburuan sosial. Itu lantaran data dari pusat berbeda dengan kenyatan di masing-masing desa. “Kita lihat raskin jadi rastra tersebut. Siapa yang menerima jelas tidak sesuai dengan kon-disi keluarga masing masing,” bebernya.Menurut dia, sebenarnya BPS memiliki data terbaru yakni pada 2015. Namun sayang, hingga saat ini data belum dirilis. Dia berharap, data teranyar tersebut dapat dipublikasikan sehingga data pasti kemiskinan tidak kedaluwarsa.Sementara itu Kabag Kesra Pemkab Gunungkidul Bambang Sukemi enggan berbicara lebih jauh mengenai validitas data kemiskinan. Menurutnya, hal itu menjadi kewenangan pemerintah pusat dan pemkab hanya menjalankan saja.Menurutnya, data penerima rastra merupakan data dari pemerintah pusat. Dengan demikian jumlah penerima rastra merupakan kuota yang diterima. “Kita menerima kuota saja, nama bisa berubah, namun tidak mengubah kuota,” kata Bambang. (gun/laz/ong)