WARGA eks Gafatar saat ini masih menja-lani proses deradikalisasi. Namun, yang tidak kalah pentingnya adalah penanganan psikologis bagi korban, terutama anak-anak
Salah satu tim kesehatan di Youth Center, dr Darmawan Lingga mengatakan, pertama-tama yang dilakukan adalah membuat pengungsi tersebut tenang terlebih dahulu. Sete-lahnya bagian psikolog yang harus masuk. Tugasnya, memas-tikan mereka tidak mengalami trauma psikis yang berat. “Banyak orang yang bersentu-han untuk ngobrol, dan bertanya malah bisa membuat tambah bingung,” katanya kepada Radar Jogja, kemarin.Psikolog, kata Lingga, akan mela-kukan trauma healing, psikologis, assessment, dan mendeteksi apa-kah ada temuan-temuan sampai dipastikan semua kondisinya normal. Menurutnya, psikolog yang harus bekerja di awal sebe-lum petugas lainnya. “Psikis yang semestinya didahulukan, baru pemeriksaan fisik,” katanya.Kondisi yang menimpa para eks Gafatar termasuk kejadian tidak normal. Mereka menga-lami yang dinamakan neurosis psikis ringan. Gejalanya adalah cemas, tidak bisa berkonsen-trasi, mengeluh susah tidur, gampang terbangun sampai dengan tidak mau makan. “Imbasnya, nanti bisa menarik diri dari lingkungan, cenderung diam atau bahkan histeria. Itu bisa menimpa dari dewasa sam-pai anak-anak,” jelasnya.Di Youth Center, disiagakan psikolog, gabungan dari univer-sitas di Jogja yang memiliki Fa-kultas Psikologi. Mereka semua bekerja dalam sebuah tim. Di samping juga ada psikolog dari setiap Puskesmas di Sleman. Semuanya disiapkan dan di jadwal per sif.Ditanyakan mengenai kon-disi yang mungkin dialami para korban eks Gafatar, Lingga me-nyebut, mereka mengalami stres-sor. Sumber stressor terberat di antaranya kehilangan keluarga dan bermasalah dengan hukum. “Mereka termasuk berurusan dengan hukum adat istiadat dan agama, termasuk berat. Setahun tidak dikelola dengan baik bisa berdampak ke sakit fisik,” katanya. Menurutnya, warga eks Gafa-tar ada pada situasi di mana ada perbedaan antara yang diharap-kan dan didapatkan. Karena pergi ke tempat baru harapannya memperbaiki hidup. “Iming-iming dan kenyataan lain. Di usir, dan akhirnya jadi masalah,” ujarnya.Ditanyakan mengenai hal yang mungkin mempengaruhi me-reka mau pergi ke Kalimantan, kata Lingga, lebih pada pende-katan sosial. Bagaimana anak muda didorong agar bisa mem-berikan sesuatu yang berguna, eksistensi diri, kemudian ber-harap dalam satu koloni akan jadi hal yang baik. “Lama-lama tertarik dan mau diajak pergi,” katanya.Menurutnya, hal yang mungkin dapat dilakukan untuk me-nyelamatkan eks Gafatar tersebut adalah masyarakat mau kem-bali menerima. Merangkul dan mau mengajaknya berinteraksi di tengah-tengah mereka. “Mereka bisa jadi tercerabut dari akarnya. Tapi, dengan pen-dekatan yang baik terus menerus, maka tidak ada yang tidak mung-kin,” tandasnya. (riz/ila/ong)