GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
SEIMBANG: Peserta mengikuti peringatan Hari Gizi Nasional di sepanjang kawasan Malioboro, Jogjakarta, Minggu (31/1). Dalam pawai budaya kemarin, mereka mengajak masyarakat agar lebih peduli dan sadar terhadap konsumsi gizi seimbang.
JOGJA – Bagi orang tua yang memiliki bayi di bawah lima tahun (balita) wajib memperhatikan asupan si buah hati. Ini tak hanya soal nafsu makan. Gizi bayi juga harus diperhatikan agar tumbuh kembangnya baik.Pemahaman pentingnya gizi inilah yang dikampanyekan saat peringatan Hari Gizi di Titik Nol Kilometer, kemarin (31/1). Agar anak-anak Indonesia bukan hanya lucu saat bayi, mereka juga tumbuh dan berkembang menjadi bayi cerdas. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Vita Yulia menuturkan, ada banyak penyebab gizi buruk terjadi pada seorang balita. Misalnya saja, saat masih di kandu-ngan asupan gizi ibu tidak memadai, sehingga berdampak saat bayi lahir. Bisa juga disebabkan oleh lingkungan tempat tinggal. Contohnya, ibu terkena infeksi saat hamil. Imunisasi yang tidak lengkap atau si balita tidak diberikan imu-nisasi nonprogram Pentingnya Gizi Seimbang untuk Buah Hati
“Ada juga gizi buruk disebab-kan penyakit bawaan. Atau salah pola asuh yang berimbas pada pemberian pola makan yang tidak benar,” ujar Vita.Dia menambahkan, keper-cayaan sosial terkadang juga bisa menjadi masalah. Ada se-bagian ibu yang percaya seorang anak tetap sehat bila tidak menda-patkan ASI. “Tapi malah percaya pada air tajin atau air saat me-nanak nasi untuk asupan gizi anak,” ungkapnya. Terakhir, karena faktor eko-nomi. Tapi, faktor ini sangat kecil, bahkan tidak ada di Kota Jogja. Kendati begitu, lanjutnya, tidak sedikit kasus yang dirujuk dan dirawat ke Rumah Pemuli-han Gizi (RPG). Dari data Dinkes Kota Jogja tahun 2014 silam ada 66 kasus gizi buruk. Sebanyak 56 balita sangat kurus dan dirawat di RPG karena pola asuh serta pola makan yang tidak benar. Kemudian lima balita menderita penyakit penyerta, empat balita karena kelainan tumbuh kembang, satu balita akibat kondisi sosial dan ekonomi. Setelah gizinya membaik, berat badannya naik, dan anak lebih aktif, baru bisa dipulangkan ke rumah masing-masing.Dia menegaskan, meski terca-tat ada sejumlah kasus terjadi di Kota Jogja, namun tidak melulu diderita balita Kota Jogja. Melainkan juga balita yang merupakan anak seorang pe-rantau yang kemudian ber domisili di Kota Jogja. “Balita tersebut mengalami gizi buruk dan ter-pantau, serta terinventarisasi oleh data Dinkes Kota Jogja,” ungkapnya.Ketua PKK Kota Jogja Tri Kirana Muslidatun menegaskan, masa-lah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat. Penyebab timbulnya masalah gizi merupakan multifaktor. Me-nurutnya, penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. “Selain penanggulangan ma-salah gizi kurang, masalah gizi lebih atau obesitas juga patut mendapat perhatian,” jelasnya.Ana, sapaannya, menegaskan, PKK di Kota Jogja terus melaku-kan pemantauan terhadap gizi buruk. Ini dilakukan Posyandu yang ada di semua kelompok PKK. “Selalu ada identifikasi, kemudian diteruskan ke Puske-smas untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,” tandasnya. (eri/ila/ong)