YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
PRAKTIS: Kelompok Tani Ngudi Lestari, Sariharjo, Ngaglik mengembangkan sistem hidroponik air mengalir menggunakan pipa peralon.

Berkebun Secara Hidroponik, Terapkan Nutrient Film Technique

 
Memiliki lahan sempit bukan lagi menjadi kendala bagi yang hobi berkebun. Hidroponik sistem air mengalir solusinya. Tanpa media tanah pun, nyatanya hasilnya justru lebih otimal.

YOGI ISTI PUJIAJI, Sleman
SISTEM hidroponik memang telah banyak dikembangkan di kota-kota besar. Khususnya di kawasan padat penduduk ber-lahan sempit. Tujuannya, supaya lahan sempit tetap tampak hijau, meski bukan diisi dengan tana-man keras. Melainkan cukup dengan daun-daunan.Nah, kita bisa mencontoh yang dilakukan Kelompok Tani Ngu-di Lestari, Sariharjo, Ngaglik. Mereka mengembangkan sistem hidroponik air mengalir meng-gunakan pipa peralon. Dan un-tuk menekan biaya, digunakan-lah paralon-paralon bekas.Di kebun yang dinamai “Jogja Garden” itu Paino salah seorang penggeraknya, memanfaatkan lahan seluas 400 meter persegi untuk bercocok tanam. Lahan tersebut dipenuhi instalasi pipa hidroponik.Memanfaatkan peralon beru-kuran 1,5 inci sepanjang 20 me-ter, Paino bisa menghasilkan aneka sayuran yang menjadi langganan restoran hotel ber-bintang. Desain peralon bisa menyesuaikan luas lahan. Tidak harus memanjang, tapi bisa disusun bertingkat. Dengan ca-tatan, air tetap bisa mengalir.Metode ini dikenal dengan se-butan sistem NFT (Nutrient Film Technique). Tiap jarak 20-30 cm, peralon dilubangi kecil untuk area menanam bibit sayuran. “Prinsip kerjanya memang tidak pakai tanah. Bisa pakai sekam, sabut kelapa, atau kerikil. Yang penting air mengalir,” jelasnya. Untuk menjamin air tetap men-galir dibutuhkan pompa seder-hana. Seperti pompa air yang biasa dipasang untuk aquarium. Dengan begitu, air yang sudah dicampur dengan nutrisi men-galir secara terus-menerus tanpa batasan waktu. Hal lain yang harus menjadi perhatian, instalasi pipa peralon harus terkena sinar matahari, meski tidak harus secara langs-ung. Tapi, jangan sampai ter-kena air hujan. Sebab, air hujan akan berpengaruh pada kualitas nutrisi atau pupuk tanaman. Selain NFT, Paino juga mengembangkan sayuran hidro-ponik dengan sistem Wick. Sistem ini menggunakan sumbu untuk mengalirkan nutrisi ke media penanaman. “Hasilnya sama bagus. Pertumbuhan tanaman lebih cepat hingga 30 persen di-banding media tanah,” ujarnya.Nah, untuk kepentingan bisnis, Paino sengaja menanam sayuran jenis Romaine Lolorosa merah dan Endive. Dua jenis sayuran itu biasa dimakan sebagai salad oleh turis asing. Secara umum, proses tanam hingga panen cukup sederhana. Bibit sayuran sebanyak dua biji ditanam di polyback sampai usia dua minggu, lalu dipinda-hkan ke instalasi hidroponik sebagai media pembesaran ta-naman. Penyemaian butuh waktu dua minggu. Lalu, dit-unggu lagi selama sebulan hingga bisa dipanen. Setiap kali panen, Paino bisa menghasilkan 10 kilogram say-uran segar untuk tiap jenis sayuran per sistem. Endive di-jual Rp 30-35 ribu per kilogram. Sedangkan Romaine Rp 20 ribu.Dari semula hobi berkebun bunga, kini Paino fokus mengembangkan hidroponik sebagai peluang usaha.Pesan yang ingin ditekankan Paino adalah, pengelola kebun tidak harus repot mencangkul tanah di bawah terik matahari. Dengan begitu, hidroponik bisa menjadi hobi baru bagi anak muda. Atau bahkan menjadi lapangan pekerjaan bagi pem-uda yang masih menganggur. Selain membantu program penghijauan yang digalakkan pemerintah, sekaligus bisa men-ghasilkan uang. “Modalnya tidak banyak, kok,” tutur Paino yang mengawali bisnis dengan modal hanya Rp 4 juta. (din/ong)