SETIAP organisasi masyarakat (ormas) memiliki pandangan dan tujuan berbeda. Dari perbedaan ini, terdapat ormas yang dinilai merugikan masyarakat karena memiliki cara-cara dan program kerja yang tidak sesuai dengan tujuan negara. Ormas semacam ini kerap disebut ormas radikal.Menyikapi keberadaan ormas radikal, Rais Syuriah PWNU DIJ KH Azhari Abta mengaku tidak alergi dengan keberadaan ormas-ormas yang dicap radikal. Dalam kehidupan bernegara, hal tersebut sangatlah wajar. Sebab, sebagai manusia yang berpikir, mereka memiliki cara-cara tersendiri un-tuk memenuhi keinginan. Salah satunya melalui ormas. “Saya tidak pernah alergi deng-an mereka. Saya terbuka untuk diskusi apa saja dengan mereka. Mereka sebenarnya bukan musuh kita,” jelasnya.Dia mengatakan, di kediaman-nya di bilangan Maguwoharjo, Depok, Sleman kerap dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai ormas. Baik ormas yang moderat maupun yang saat ini dikatakan radikal oleh masyarakat.Nah, di kediamannya inilah, dia kerap berdiskusi dengan mereka-mereka yang berbeda aliran dan pandangan. Meski memiliki pan-dangan yang berbeda, Azhari tidak pernah menghakimi bahwa ormas yang mereka jalani salah. “Mereka yang dicap radikal memang terkadang terlalu menu-ruti idealismenya. Mereka ingin mendirikan negara sesuai dengan haluannya. Saya katakan kepada mereka, silakan mereka punya cita-cita, namun NKRI sudah final. Kami saling mengerti,” jelasnya.Menurut pandangannya, pena-nganan organisasi radikal tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara kekerasan. Bahkan, disebut-nya pembubaran bukan sebuah jalan keluar.Dia menilai, dialog adalah cara terbaik untuk mengatasi perso-alan keberadaan ormas radikal. Sebab, selama ini, akses komuni-kasi mereka dengan negara sangat minim. Maka dari itu, keberadaan ormas besar seperti NU inilah yang bisa dijadikan penyam-bung dari apa yang diinginkan oleh ormas tersebut. “Mereka-mereka ini kan manu-sia, punya keinginan, tetap harus dimanusiakan. Jangan-jangan mereka melakukan tindakan tidak benar, karena kurangnya perhatian dari negara,” jelasnya. (bhn/ila/ong)