Kuliah sekaligus bekerja bukan lagi fenomena asing di kalangan mahasiswa. Memutuskan untuk bekerja sambil kuliah juga tidak semudah yang dibayangkan. Pasalnya, ada dua tanggung jawab yang secara prioritas harus dikerjakan.

sri-roviana
MENCARI uang saat masih ber status mahasiswa, bagi sebagian orang menjadi masa-masa penuh tantangan. Karena saat itulah, seorang mahasiswa belajar dewasa, baik dari segi sosial, kejiwaan, dan ekonomi.Menurut pandangan Praktisi Pen-didikan Sri Roviana, kuliah sambil kerja itu baik, apapun bentuk pekerjaan yang dipilih. Apalagi pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bayangan akan kemana nantinya selepas meng-gunakan toga. Kerja, lanjutnya, men-jadi salah satu cara mahasiswa untuk membuka link. Jadi ketika lulus kuliah, mereka tidak merasa gelap dan bingung mau kerja dimana. “Minimal perkerjaan per-tama pascawisuda sudah ada bayangan,” ujar pendidik di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga kepada Radar Jogja, kemarin (29/1).Tidak buta dunia kerja, inilah salah satu tujuan yang bisa diraih bagi mahasiswa yang nyambi kerja. Begitu lulus, mereka tinggal me-neruskan ke sayap-sayap pekerjaan yang diimpikan-nya. Menurut pendidik yang kini sedang menempuh S3 Studi Islam UIN Sunan Kalijaga ini, hampir semua universitas menggalakkan dan men-dorong mahasiswanya menjadi wirausaha muda. Setelah lulus SMA, usia 18 hingga 19 tahun adalah fase belajar perlahan-lahan untuk mandiri. Dengan bekerja ataupun menjalani usaha sendiri, mahasiswa memiliki pemahaman bagaimana sulitnya mencari uang. Termasuk bagaimana memutar uang. “Penting untuk belajar bekerja, da-lam konteks agar dia tidak menjadi individu yang konsumtif. Jangan sam-pai fase mahasiswa hanya dijadikan pasar oleh industri,” papar perem-puan kelahiran 19 September 1974 ini.Diungkapkan, ketika seorang ma-hasiswa sudah berkecimpung di dunia kerja, dia akan merasakan sendiri bagaimana sulitnya mencari uang. Sehingga, dia akan menjadi lebih berhati-hati dalam membelanjakan kiriman dari orang tua. Terlebih, men-jadi mahasiswa merupakan masa transisi. “Antara sudah dewasa awal namun belum sepenuhnya secara ekonomi mandiri, tetapi dibilang anak-anak juga tidak,” ujarnya.Menurutnya, memang belum ada rumus yang ideal kapan waktu yang pas bagi mahasiswa untuk kuliah sambil kerja. Jika dia sudah hafal ritme kampus, serta bisa menghitung risiko dan mem-prediksi target kelulusan, saat itulah si mahasiswa bisa memutuskan untuk nyambi bekerja.Soal bekerja part time atau full time, Sri Roviana menyarankan, agar ma-hasiswa memilih kerja paruh waktu. Karena risiko waktu bisa lebih diatur ketimbang yang full time. Mengingat waktu efektif mahasiswa ada di siang hari. Ada perbedaan perilaku antara ma-hasiswa yang kuliah sambil kerja dan yang tidak. Dari interaksi sosialnya, mereka yang bekerja cenderung lebih terbuka, karena perlahan sudah mem-pelajarinya di dunia kerja. Mereka juga bisa menyiasati waktu.Namun sebaliknya, mahasiswa yang tidak mencicipi dunia kerja saat kuliah, dikhawatirkan akan mengalami keterlambatan dalam proses kema-tangan atau maturity. “Baik itu ma-turity sosial, kejiwaan, dan ekonomi,” ujarnya.Memang ada pergeseran tren ma-hasiswa dalam nyambi kuliah. Jika di tahun 1980 hingga 1990-an maha-siswa cenderung mengambil sambilan yang sifatnya fisik, seperti antar jemput anak sekolah, jualan es atau jualan makanan. Tren itu sudah sedikit ber-geser. Di masa kini, mahasiswa justru mencari sambilan yang sifatnya in-telektual, seperti mengajar bahasa Inggris, menjadi wartawan muda, freelance editor atau menjadi pener-jemah buku. Dijelaskan, risiko bagi mahasiswa bekerja yakni tenggat kelulusan. Apakah siap menyelesaikan kuliah sesuai target sambil bekerja. Support dari keluarga juga diperlukan. “Ada saatnya maha-siswa harus melepas pekerjaannya, terutama saat KKN dan skripsi, ka-rena itu harus betul-betul fokus.,” ujarnya. (dya/ila/ong)