DWI AGUS/RADAR JOGJA
SYAHDU: Warga di seputaran Pantai Depok menyaksikan layar tancap

BANTUL – Suasana menonton layar tancap ala tempo dulu be-gitu terasa di sisi barat Gerbang Pantai Depok. Pasalnya, di sana tengah diadakan nonton bareng film karya sutradara muda asal Jogja, Eddie Cahyono. Ya, film garapannya, SITI, terus menuai pujian. Tak hanya ka-rena menyabet Film Terbaik FFI 2015, semenjak diputar perdana akhir Januari kemarin, film ini juga mencuri perhatian publik Jogja. Sebagai bentuk penghar-gaan, film ini akhirnya kembali ke rumahnya, Jogjakarta. “Kita adakan acara nonton bareng dengan pemutaran layar tancap di Pantai Depok,” Pro-duser film Ifa Ifansyah, akhir pekan kemarin.Dijelaskan, pemutaran ini iba-ratnya pulang kampung. Sebab, proses syuting dilakukan di Ban-tul. Lokasi pemutaran film ini pun sama dengan setting lokasi dalam film. “Penontonnya tidak hanya warga sekitar, terlihat juga beberapa warga dari kota lain,” ungkapnya.Meski hanya diputar di lapangan kecil, antusiasme penonton tetap tinggi. Beralaskan pasir pantai dan beratapkan langit, pemutaran SITI benar-benar syahdu. Bebe-rapa celotehan anak-anak pun terdengar ketika film ini diputar.Suasana ini berbeda ketika film diputar di bioskop, di mana penontonnya harus benar-benar tenang dan tidak gaduh. Malam itu suasana berubah layaknya pasar malam dadakan. Bahkan suara debur ombak laut terdengar beberapa kali.Uniknya, beberapa warga yang menonton film ini juga terlibat dalam syuting. Seperti Misto, 37, yang rumahnya digunakan sebagai lokasi syuting. Nelayan asal Kebumen ini terlihat ber-semangat menonton film ini. Bahkan dia mendapat kehor-matan untuk menyampaikan kata sambutan. “Sejak proses syuting sudah menyenangkan karena kita benar-benar dilibatkan. Pastinya kita mendukung, apalagi yang diangkat sangat dekat dengan kami. Menggambarkan keadaan kampung nelayan ini,” kata pria yang sudah merantau di Jogja-karta sejak 1997 silam.Hal yang sama juga dirasakan oleh Longgor, 30. Nelayan asal Cilacap ini tak kalah antusiasnya dengan Misto. Bahkan Longgor rela mening-galkan rutinitasnya membenahi jaring ikan demi melihat film ini. “Lampu rumah sengaja dimatikan agar suasana pemutaran film terasa lebih syahdu,” ungkapnya.Film berdurasi 88 menit ini memang seakan-akan menjadi corong bagi nelayan pantai se-latan. Dengan penghasilan yang tak pasti, mereka harus berhada-pan dengan getirnya hidup. Mulai dari permasalahan eko-nomi, sosial, pendidikan hingga halangan melaut karena kondisi alam. (dwi/ila/ong)