Dipercaya menjadi Rais Syuriah PWNU DIJ, bagi KH Azhari Abta merupakan sebuah tugas yang tidak mudah diemban. Ulama yang kini berusia 64 tahun itu merupakan pengendali organisasi dan penentu kebijakan, di mana syuriah merupakan badan musyawarah pengambil keputusan tertinggi dalam Nahdlatul Ulama (NU).

TEPAT hari ini, NU menginjak usia ke-90. KH Azhari Abta menyebut se-buah pencapaian yang patut disyukuri, karena NU telah berhasil melewati ber-bagai tantangan zaman. Hanya, dengan iklim demokrasi yang semakin terbuka, tak jarang kekurangan tersebut hinggap pada anggota dan kader-kader NU. Terutama para pengurus NU itu sen-diri. Dia menyebut, pada saat ini penyakit apatisme tengah meng-hinggapi anggota. “Kami tengah dihinggapi penyakit apatisme. Apatis terhadap kegiatan sosial keagamaan. Mereka yang dihinggapi penyakit ini begitu semangat menjadi pengurus, tapi sulit mengikuti rapat-rapat kerja,” jelasnya kepada Radar Jogja ditemui Jumat (28/1) kemarin. Dia menegaskan, organisasi tidak akan segan memecat pengurus yang tidak memiliki dedi-kasi terhadap ormas. Sebab, bila dalam menuangkan gagasan dalam rapat saja sudah tidak mau, maka besar kemung-kinan program kerja yang telah ditetap-kan berat untuk dijalani.Padahal, lanjutnya, dari segi syiar kami memang cukup bergema. Tapi dari segi organisasi kami membutuh-kan banyak orang untuk terlibat. “Terutama orang-orang yang bisa memajukan ormas ini,” jelasnya.Dia menyayangkan bila ada pengurus yang memanfaatkan kedudukan hanya untuk mendapatkan massa. Maka tak heran, ketika jelang ketika Pilkada, para pengurus ini terlalu menyibuk-kan diri dalam kegiatan saling dukung mendukung calon. “Realita, hal ini ter-jadi,” tandasnya.Maka dari itu, tantangan ke depan kami adalah mempertajam program. Juga meminimalisasi sikap apatis dari para pengurus. “Jadi pengurus memang berat, karena tujuan kami adalah ibadah,” jelasnya.Dalam melawan apatisme tersebut, dia meminta agar pimpinan di masing-masing daerah rutin mengevaluasi kinerja para pengurus.Bahkan, jika ada pengurus tidak optimal melaksanakan tugas dan tanggung jawab, harus segera diam-bil langkah tegas, termasuk member-hentikan. “Jangan sampai gara-gara satu orang yang kinerjanya tidak optimal meng-ganggu capaian program kerja yang telah susun secara matang,” tegasnya. (bhn/ila/ong)