KOMPAK: Ketua PWI DIJ Sihono HT, Ketua Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme KH Muhaimin, bersama pembicara lain dalam diskusi di Gedung PWI Jogjakarta Jumat (29/1).
JOGJA – Jogjakarta menjadi tar-get bagi aktivis kelompok- kelompok eks trem untuk merekrut ang go ta. Hal itu wajib diwaspadai o leh se-mua pihak. “Tidak hanya a ga ma-wan. Juga, pemerintah atau a pa-rat keamanan. Siapapun, se mu-a nya wajib waspada,” ujar Ketua Fo rum Koordinasi Pe nang gu lang-an Terorisme KH Muhaimin da-lam diskusi di Gedung PWI Jogja-kar ta (29/1).Menurutnya, para agamawan se la lu menyampaikan pentingnya hi dup yang harmonis. Tokoh a ga-ma, baik di level organisasi dan lo kal, semestinya lebih aktif men-de teks i gejala-gejala ekstremisme yang ada. “Kami tidak kurang-ku rang nya menyampaikan pen ting nya ke-hidupan yang humanis dan etis,” jelasnya.Tokoh yang juga ketua Forum Per sa u da ra an Umat Beriman (FPUB) itu menambahkan, pola dak wah seyogianya diperkaya de ngan dakwah yang bersifat etis. “Isu utama kenabian itu kan etika. Ukuran-ukuran keislaman itu men ja di valid kalau diukur dari e ti ka. Nabi itu memiliki akhlak yang agung. Aisyah mengagumi Na bi Muhammad SAW itu ya me-nga gum i akhlak, etikanya,” tan-das nya.Menurut dia, pola kehidupan per lu diperkaya dengan sentuhan-sentuhan kemanusiaan. Se la in itu, mendorong saling me nga si hi, me no long, peduli. “Perlu kerja sa ma semua pihak. Agamawan, intelektual, dan siapa pun untuk men cip ta kan Jogjakarta yang da-mai,” tandasnya. Ketua PWI DIJ Sihono HT menje-las kan, kondusivitas, keamanan, dan kenyamaan Jogjakarta wajib se nan tiasa dijaga. “Kita semua punya tanggung jawab untuk itu,” kata dia. (kus/din/ong)