SLEMAN – Modus eksodus anggota eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) ke Kalimantan mulai terungkap. Ternyata, tak semua anggota ormas yang dianggap sesat itu “menghilang” dari kelu-arga. Bahkan, sebagian dari mereka pamit secara baik-baik kepada keluarga dan tetangga. Alasan-nya, untuk bertransmigrasi.Pihak keluarga pun merestui. Karenanya, ada keluarga eks Gafatar yang tidak percaya terhadap ajaran yang disebut “sesat” sepeti tersiar selama ini. Seperti diungkapkan Gunawan, warga Gamping, Sleman saat menjenguk anaknya, Destyawan, di Youth Center kemarin (31/1). “Salatnya masih lima waktu. Puasa Ramadan tahun lalu juga penuh. Tidak ada perubahan,” tuturnya.Gunawan masih tak percaya jika anaknya men-dapat pengaruh aliran yang tidak dibenarkan pemerintah
Menurutnya, kepergian Destyawan pada 23 Desember 2015 murni untuk bekerja meng-garap lahan di Kalimantan. Bu-kan karena terpengaruh paham atau doktrin Gafatar. Maksud dan tujuan kepergian Destyawan disampaikan sebelum dia be-rangkat bersama istri dan anaknya. Bermodal uang Rp 80 juta untuk beli lahan dan hidup sementara waktu. “Ada tawaran tanah garapan murah, juga dapat tempat ting-gal. Dia semangat sekali, maka-nya kami setuju,” ungkapnya.Gunawan meyakini, anaknya ikut mengungsi karena ada insiden di Mempawah, Kali-mantan Barat. “Sekarang lega bisa tahu kondisi anak saya,” lanjut Gunawan yang harus tiga kali bolak-balik ke Youth Center hingga diizinkan mem-besuk anaknya oleh petugas setempat.Hingga saat ini, memang Pem-prov DIJ masih memperketat penjagaan eks anggota Gafatar dengan alasan untuk pembi-naan dari doktrin deradikali-sasi. Pihak keluarga hanya di-beri kesempatan menjenguk famili yang ditampung di Youth Center pada Minggu, pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. “Besuk dibatasi hanya 30 me-nit secara bergantian,” kata seorang relawan Tagana, Sunyoto.Selain waktu yang diberikan sangat terbatas, keluarga dilarang masuk area penampungan. Setelah didata oleh petugas, keluarga hanya boleh menemui kerabatnya di gedung teater. “Waktu sangat dibatasi karena jumlahnya banyak dan kegiatan-nya padat,” lanjut Sunyoto. Sementara itu, total warga Sle-man yang ditampung di Youth Center sebanyak 112 orang. Sisanya berasal dari Bantul sebanyak 49 orang, Gunungkidul ada 16 orang, dan Kota Jogja sebanyak 67 orang.Kini mereka sedang mengikut program deradikalisasi. Kegia-tan deradikalisasi berupa pen-dampingan untuk meluruskan paham Gafatar yang dianggap sesat. Tim pendamping di antaranya dari Kementerian Agama RI, Korem 072, dan psi-kolog anak. (yog/ila/ong)