KEVIN KRISSUSENO/EKSPRESI

Berjuang Sampai Bel Akhir Pertandingan Berbunyi

“Prinsip melatih adalah memanfaatkan materi pemain yang ada. Jadi setiap tahun gaya permainan SMP Pangudi Luhur 1 Jogja akan selalu berbeda. ” – Dwi Buntoro

PRINSIP itulah yang membuat Dwi Buntoro selalu putar otak setiap tahun mengolah materi pemain yang ada. Menurutnya, seorang pelatih tidak bisa menerapkan sistem melatihnya sama setiap tahun.

Harus bisa memahami dan memanfaatkan materi pemain yang setiap tahun berbeda. “Ada kelebihan dan ada kelemahan pada materi pemain setiap tahun,” kata Dwi.

Namun, bagaimana caranya kelemahan itu diubah menjadi kelebihan sebagai kekuatan tim? Statemen ini bukan tanpa bukti.

Pada JRBL 2015, menurut Dwi Buntoro yang kerap disapa Ko Wen, timnya kekurangan di materi point guard. Tidak satu pun pemain memiliki skill dribble, passing dan leadership yang bisa dianggap layak untuk menjadi point guard.

Namun, pelatih yang sudah berkarier selama 24 tahun itu dapat memberi solusi. Yakni dengan menerapkan sistem permainan baru.

“Saya memutuskan menggunakan dua sampai tiga playmaker dalam satu tim. Pemain yang aslinya bermain di posisi shooting guard saya minta belajar dribble dan passing,” ujar Ko Wen.

Namun dia enggak mau cuma ada satu orang playmaker. ‘’Saya bermain dengan sistem double playmaker sehingga mereka bisa bekerja sama dan manfaatnya adalah dalam satu tim terdapat dua sampai tiga orang yang bisa membagi bola,” terang Ko Wen.

Manfaat memiliki beberapa playmaker yang dimainkan bersamaan membuat aliran bola pemain Espeelsa (julukan SMP Pangudi Luhur 1 Jogja) berjalan baik.

Selain itu, para pemain juga kerap melakukan pergerakan efektif dan memahami posisi masing-masing. Hal ini karena Ko Wen sudah mengajarkan pola tersebut sejak dini.

“Kasih pola yang mudah dipahami untuk anak SMP. Dalam latihan memang ada banyak pola. Namun kenyataannya di lapangan nanti pasti hanya sedikit yang dipakai. Itu bukan masalah, yang penting pemain mengerti sistem permainan mereka dengan baik sejak dini,” tambah pelatih kelahiran Jogja, 1 Oktober 1970 tersebut.

Meski menjadi champion pada JRBL 2015, Espeelsa sering sebut sebagai tim “diesel”. Sebutan untuk tim yang sering telat panas. Jadi, dalam pertandingan mereka kerap tertinggal dulu.

Namun semua itu dapat terlewati karena Ko Wen selalu memberi mereka nasihat untuk tidak menyerah sebelum pertandingan berakhir.

“Anak-anak sering dianggap main kasar. Padahal mereka menunjukan permainan tough karena saya bilang, sebelum bel pertandingan berakhir, mari berjuang sebaik mungkin,” katanya. (ata/iwa/ong)