GUNAWAN/RADAR JOGJA
CEK: Pjs Bupati Gunungkidul Budi Antono (tengah) melakukan pengecekan lokasi penampungan eks Gafatar di BLK Siraman, Wonosari, kemarin (1/2).

WARGA eks Gafatar yang berada di penampungan Youth Center, Mlati, Sleman, Selasa (2/2) ini diserahkan ke masing-masing pemerintah kabupaten dan kota. Sebanyak 116 warga eks Gafatar asal Sleman dipindahkan dari Youth Center menuju Balai Besar Latihan Ketransmigrasian (Balatrans) Jogjakarta. Sedangkan warga dari Gunungkidul dipindahkan ke Balai Latihan Kerja (BLK), begitu pula warga eks Gafatar dari Kulonprogo.

Kepala Bidang Kesejahteraan Sosial Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Disnakersos) Sleman Surono mejelaskan, sebanyak 116 warga eks Gafatar ditampung di Aula Srikandi, Balatrans selama tiga hari. Dalam kurun waktu itu, warga eks Gafatar mendapatkan jatah hidup (jadup) serta pelayanan kesehatan fisik dan psikis.

“Hanyas, jika sudah ada pihak keluarga yang menjemput mereka diperkenankan kembali setelah waktu makan siang. Untuk penjemputan tetap harus didampingi oleh pemerintah daerah setempat seperti perwakilan dari kecamatan atau kelurahan,” jelas Surono disela-sela mempersiapkan tempat penampungan, Senin (1/2).

Total 116 eks Gafatar yang berada di Balatrans Jogjakarta ini terdiri dari 25 balita, 17 anak-anak, 73 orang dewasa, dan satu orang ibu hamil. Selama di penampungan, Pemkab Sleman menyediakan empat buah bilik yang diperuntukan khusus bagi balita. Selain itu, disediakan juga sejumlah karpet dan kasur bagi warga.

Surono mengungkapkan, lokasi penampungan sementara ini bergeser dari rencana awal yang menempati Panti Sosial Bina Remaja (PSBR) yang dimiliki Dinas Sosial DIJ. Ini disebabkan PSBR tidak memungkinkan menampung warga karena sejumlah tempat telah digunakan.

“Kondisi PSBR tidak memungkinkan karena sudah digunakan untuk menampung anak-anak putus sekolah serta anak berkebutuhan hukum (ABH),” jelasnya.

Sementara itu, sejumlah persiapan menyambut kedatangan anggota eks Gafatar telah dilakukan Pemkab Gunungkidul. Selama berada di penampungan, kebutuhan mereka bakal terjamin secara penuh.

Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Trasmigrasi (Dinsosnakertrans) Gunungkidul Dwi Warno Widi Nugroho mengatakan, sejumlah fasilitas untuk eks Gafatar sudah siap. Misalnya, keperluan tempat tidur. Setiap keluarga disediakan satu ruangan khusus.

“Masing-masing keluarga lengkap dengan kasur, bantal, hingga selimut,” kata Dwi Warna, kemarin (1/2).

Untuk memenuhi kebutuhan perut? tidak perlu khawatir. Tidak akan ada cerita makan dengan nasi kotak, sebab nanti menggunakan sistem prasmanan. Dengan demikian, mereka bisa makan dengan nyaman dan mudah dalam koordinasi.

Keseriusan pemkab menyambut kedatangan warga eks Gafatar juga diperlihatkan Pjs Bupati Gunungkidul Budi Antono. Dia lebih dari sekali melakukan pengecekan lokasi penampungan di Balai Latihan Kerja (BLK) di Siraman, Kecamatan Wonosari.

Untuk jumlah eks Gafatar yang pulang kampung sendiri hingga sekarang masih simpang siur. Data terkini sebanyak 19 orang. Direncanakan, hari ini sekitar pukul 09.00 WIB, mereka datang di tempat penampungan sementar. “Setelah saya melihat langsung, berbagai persiapan sudah tidak ada masalah. Kita siap menerima eks Gafatar,” kata Budi Antono.

Terpisah, dari empat kabupaten dan satu kota di DIJ, yang merasa ringan untuk menangani warga eks anggota Gafatar adalah Pemkab Kulonprogo. Ini karena informasinya, hanya terdapat empat orang saja.

Kepala Kesbangpol Kulonprogo Tri Wahyudi mengatakan, karena hanya empat orang, mereka akan langsung dikembalikan ke pihak keluarga. Kendati demikian, jika lingkungan belum siap menerima sudah disiapkan tempat penampungan di gedung Balai Latihan Kerja (BLK) Kulonprogo.

“Karena jumlah warga eks Gafatar sedikit, pendampingan akan dilakukan di lingkungan sosial, bukan secara forum,” ujarnya. (bhn/gun/tom/ila/ong)