GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA

 
JOGJA – Hari Raya Imlek identik dengan liong dan barongsai. Menjelang Imlek, para perajin dan pemain liong mulai kebanjiran pesanan. Salah satunya adalah Slamet, 68, atau yang biasa disapa Pak Pong.

Ditemui di rumahnya di Kampung Pajeksan, Sosromenduran, Gedongtengen, Kota Jogja, Pong mengaku sudah menyiapkan 100 buah barongsai ukuran kecil dan sedang. Barongsai sebanyak itu dibuatnya selama satu bulan ini. Karena, menurutnya, Imlek tahun ini diperkirakan pesanan meningkat.

Pong menekuni kerajinan barongsai karena suka dengan keunikan dan keindahan bentuknya. Setelah belajar cara membuat barongsai selama 1,5 bulan, dia pun sudah bisa mandiri. Meski tidak dalam momentum Imlek, setiap hari barongsai buatannya juga tetap laku. Biasanya, barongsai laku dijual ketika ada perayaan pasar malam.

Dalam pembuatan barongsai, dia mengaku tidak ada kendala dan kesulitan yang berarti. Namun karena barongsai dan liong itu dibuat dari kertas daur ulang dan lem, maka panas matahari menjadi faktor yang paling menentukan.

Ditanyakan mengenai lama pembuatan barongsai dan liong, itu tergantung ukurannya. Untuk ukuran kecil dan sedang, dalam sehari dia bisa membuat 15 kepala barongsai. Sedangkan harga jualnya untuk barongsai kecil dan sedang rata-rata dijual antara Rp 30 hingga 40 ribu per buahnya.

“Barongsai kecil dan sedang ini untuk mainan saja. Kalau untuk main pertunjukkan beda lagi,” katanya kepada Radar Jogja, Senin (1/2).

Menurut Pong, barongsai untuk permainan biasanya berdiameter 150 centimeter. Kerangkanya terbuat dari rotan, dan bulu mata dari wool atau bulu domba. Harganya bisa mencapai Rp 3 juta. Harga tersebut, menurutnya, karena bahan kertas yang digunakan cukup banyak dan sebagian bahan yang digunakan ada yang harus didatangkan dari luar daerah.

“Kalau untuk bahan bulu mata atau alisnya, kita harus mendatangkan bahannya dari Semarang dan Bandung,” terangnya.

Sementara itu, untuk harga liong atau naga lebih mahal lagi. Liong dengan panjang 20 meter harganya Rp 7 juta. Sedangkan lama pembuatannya bisa mencapai tiga bulan. Dengan berbagai kerumitannya dalam proses membuat liong dan barongsai, dia hanya merasa kesulitan ketika panas matahari tidak maksimal.

Selain membuat barongsai, dia juga pemain barongsai. “Main barongsai sejak 1999. Saat ini sudah ada delapan pesanan untuk main barongsai di berbagai tempat di Jogja,” ujarnya
Pong berharap, pada Imlek tahun ini masyarakat Indonesia dan Jogja diberikan rezeki yang berlimpah. Selalu dalam kebaikan dan kerukunan sesama umat manusia selalu terjaga. ” Semoga negeri ini selalu dihindarkan dari bencana,” harapnya. (riz/ila/ong)