GUNUNGKIDUL – Awal tahun ini, jumlah penderita demam berdarah dangue (DBD) di Gunungkidul mengalami penurunan. Tentu saja ini merupakan kabar menggembirakan. Karena pada tahun 2015 pada bulan yang sama, jenis penyakit mematikan tersebut kasusnya sangat tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinskes) Gunungkidul Agus Prihastoro menjelaskan, jumlah penderita DBD pada Januari 2016 sebanyak 71 kasus. Pihaknya sekaligus meralat pernyataan sebelumnya yang menyebut bahwa dari 71 kasus, satu diantaranya meninggal dunia.

“Jadi, yang benar tidak ada yang meninggal dunia,” ungkap Agus kemarin (2/2).

Menurut Agus, awal tahun ini fenomena kasus DBD di wilayahnya lebih baik dibanding Kabupaten Kulonprogo dan Bantul. Di dua wilayah itu, kasus yang disebabkan nyamuk aides aighepty jauh lebih tinggi. Yakni, mencapai lebih dari 200 kasus.

“Jadi, kami bersyukur. Semoga ke depan kasusnya tidak meningkat di wilayah kami,” harapnya.

Masih menurut Agus, penyakit DBD tidak pilih-pilih dalam menyerang korbannya. Bisa anak-anak, remaja, bahkan lanjut usia. Berdasarkan catatan, wilayah kecamatan paling banyak kasus DBD ada di ibukota kabupaten. Yakni Kecamatan Wonosari.

“Di Wonosari, kasusnya sangat banyak dibanding wilayah kecamatan lain,” imbuhnya.

Dikatakan, penurunan jumlah kasus DBD jelas menggembirakan. Bisa jadi pola hidup masyarakat saat ini menjadi lebih baik. Budaya bersih dengan menerapkan pola 3 M (menguras, mengubur, dan menutup).

“Bisa juga daya tahan tubuh masyarakat baik, sehingga jika daya tahan baik dicokoto ora kodal (digigit tidak mempan),” tegasnya.

Sebagai upaya pencegahan, dinas terus memberikan sosialisasi pada masyarakat mengenai pola hidup bersih dan budaya menjaga daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh bisa dimulai dengan makan yang cukup. Di antaranya tidak meninggalkan buah dan sayur.

“Kami juga mengimbau pada masyarakat untuk meminta abate ke puskesmas atau dinas. Apalagi gratis,” ujarnya.

Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) RSUD Wonosari Aris Suryanto mengatakan, kasus DBD merupakan siklus tahunan. Sejauh ini ada pasien yang terkena penyakit tersebut. Namun jumlahnya tidak banyak. “Pasien tidak sampai membludak,” kata Aris.(gun/hes/ong)