Hendri Utomo/Radar Jogja
TRANSPLANTER: Irjend Kementerian Pertanian Justan Riduan Siahaan dan Bupati Kulonprogo Hatso Wardoyo saat mencoba transplanter.
 
KULONPROGO – Irjend Kementiran Pertanian Justan Riduan Siahaan me-launching sistem petanian modern di Pedukuhan Jimatan, Desa Jatirejo, Lendah, Kulonprogo, kemarin (2/2). Ia berharap penerapannya bisa meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus nilai ekonomisnya.

Justan mengaku, banyak memfasilitasi petani di Indonesia. Setiap tahun telah dikucurkan bantuan alat pada kelompk tani. Alat itu sudah dirancang cangih dan mampu mendukung pertanian di Indonesia.

Launching dilakukan Irjend Kementrian Pertanian Justan Riduan Siahaan, Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo, Kepala Dinas Pertaian DIJ Sasongko, Kepala Dinas Pertanian Kulonprogo Bambang Tribudi, dan SKPD terkait.

“Inovasi petanian ini diharapkan bisa meningkatkan produksi hasil pertanian sekaligus menaikkan nilai ekonominya menjadi lebih tinggi,” kata Kepala Dinas Pertaian DIJ Sasongko di sela acara.

Menurut Sasongko, selain di Kulonprogo, pertanian modern juga dilaksanakan di Bantul dan Sleman. Ini menjadi program intensifikasi pertanian di DIJ untuk mendukung pemerintah pusat dalam mewujudkan ketahanan pangan.

“Menjadi salah satu solusi regenerasi pertanian. Terlebih petani saat ini usianya rata-rata 50 tahun. Sementara generasi muda saat ini jarang yang tertarik pertanian. Padahal kalau bukan mereka siap lagi yang turun ke sawah menggantikan orang tuanya,” paparnya.

Menurut Sasaongko, alat modern mulai traktor, mesin tanam (transplater), hingga mesin petik sangat memudahkan. Pemerintah sudah memfasilitasi kelompok tani dengan bantuan peralatan modern tersebut.

“Bantuan itu harus digunakan, agar didapat nilai kemanfaatannya. Alat itu jelas lebih menghemat tenaga dan waktu,” tegasnya.

Ketua Kelompok Tani Jatimakmur Lendah Tukiyana mengungkapkan, penggunaan transplanter menghemat waktu. Di mana satu hektare hanya butuh waktu lima jam dengan bahan bakar (solar) cukup lima liter.

“Hanya saja masih ada sejumlah kendala yang dihadapi petani dalam memanfaatkan peralatan ini. Salah satunya banyak petak sawah yang sempit. Petani juga butuh tanga untuk menurunkan alat itu ke sawah. Kadang tanahnya juga lengket di ban,” keluhnya.

Namun, setelah terbiasa, ke depan para petani akan tertarik menggunakan alat tersebut. Terlebih di wilayah Lendah, bantuan alat tersebut sudah diberikan beberapa waktu lalu.

Bupati Hasto menyatakan, petani bisa menggunakan sistem pertanian modern ini untuk mengolah hasil pertanian mereka. Penggunakan alat pertanian modern ini mampu meningkatkan jumlah produksi dan nilai ekonomisnya.

Ending-nya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.(tom/hes/ong)