Gunawan/Radar Jogja
PULANG KAMPUNG : Seorang ibu eks Gafatar menuntun buah hati ketika menuju ke rumah penampungan sementara di BLK, Siraman, Wonosari, kemarin (2/2)

Terus Dibina, Tidak Hanya di Penampungan

Belasan anggota eks-Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang terusir dari Kalimantan Barat tiba di tanah kelahiran. Mereka pulang ke Gunungkidul kemarin (2/2). Untuk sementara waktu, mereka ditempatkan di kantor Balai Pelatihan Kerja (BLK) Siraman, Wonosari.

Gunawan, GUNUNGKIDUL

Data terbaru, jumlah mereka ada 15 orang. Ada penyusutan. Karena dalam perkembangan, satu orang di antaranya berdomisili di Kabupaten Sleman. Dari ke 15 orang tersebut, terdapat anak-anak dan sejumlah pemuda.

Anggota eks Gafatar dari Bumi Handayani itu berasal dari Kecamatan Gedangsari, Tepus, Ponjong, dan Patuk. Selanjutnya, pada Jumat mendatang (5/2), mereka dikembalikan pada keluarga.

Selama di penampungan, mantan anggota ormas yang akidahnya dipertanyakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini akan digembleng. Jika beragama Islam, upaya pencerahan dilakukan juru dakwah.

“Jadi, akidah mereka akan kami luruskan,” ungkap Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Gunungkidul Nur Abadi di sela-sela menunggu kedatangan eks Gafatar, kemarin (2/2).

Ia menjelaskan, pencerahan agama menjadi penting diberikan agar ke depan tidak terpengaruh dengan aliran yang menyimpang dari ajaran Islam.

Tekhnis dakwah dari kemenag, lanjut Nur Abadi, akan ditempatkan sejumlah penyuluh. Waktu selama tiga hari di penampungan dimanfaatkan secara optimal dalam bingkai pembinaan.

“Soal hasilnya, kami belum tahu,” ucapnya.

Menurut Nur Abadi, upaya pendampingan tidak hanya selesai di penampungan. Juga saat anggota eks-Gafatar kembali ke masyarakat. Pendampingan nanti di bawah koordinasi Kantor Urusan Agama (KUA) tingkat kecamatan.

“Dari KUA bekerja sama dengan penyuluh yang akan memantau dan menyadarkan mereka,” tegasnya.

Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama (FKUB) Gunungkidul Iskanto mengatakan, sebenarnya eks-Gafatar sudah beragama. Namun terpengaruh faham yang menyimpang dari ajaran Islam.

“Bersama dengan MUI, tentu kami ada upaya untuk melakukan pembinaan,” kata Iskanto.

Di bagian lain, PJS Bupati Gunungkidul Budi Antono mengatakan, pascapemulangan dari Kalimantan Barat, pemerintah berupaya memberi anggota eks-Gafatar jatah hidup (jadup). Namun besaran jadup belum bisa disampaikan secara rinci.

“Pemberian jadup masih menunggu kebijakan dari pemerintah Provinsi DIJ. Ini berkaitan dengan besaran nominal dan berapa lama diberikan,” tegas Budi Antono.

Giyanto, salah satu anggota eks-Gafatar mengaku, bingung saat tiba di tanah kelahiran. Ia mengaku harus memulai hidup dari nol. Meski memiliki kerabat, ia menegaskan, tidak bisa selamanya menumpang.

“Saat ini saya belum tahu mau bekerja apa. Yang jelas, saya hendak bertani saja nanti di rumah,” ungkap pria yang semula ke Kalimantan Barat dengan tujuan mengubah ekonomi keluarga.(hes/ong)