JOGJA – Ini hasil survei rata-rata kelahiran di kalangan wanita usia produktif di wilayah DIJ dalam lima tahun terakhir. Jika sebelumnya angka secara nasional rata-rata 1,8, kini meningkat menjadi 2,2. Meski masih di bawah rerata nasional, pening-katan ini menimbulkan kekha-watiran tersendiri.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIJ Evi Ratnawati mengatakan, hal ini menjadi indikasi ada kecenderungan wanita usia subur memiliki anak lebih dari dua. “Ada kecen-derungan sekarang memiliki anak tiga atau empat,” ujar Evi seusai pencanangan Kampung KB di Bangsal Kepatihan, Jogja, kemarin (2/2).

Secara nasional kondisi serupa terjadi. Saat ini rerata jumlah anak pasangan usia subuh di Indonesia lebih besar dari 2,1. Bila kondisi ini terus belanjut, PBB memperkirakan pada 2050 jumlah penduduk Indonesia akan mencapai sekitar 318 juta jiwa.

Dengan kata lain terjadi penambahan 100 juta penduduk hanya dalam kurun waktu 50 tahun.Evi menilai hal itu menjadi in-dikator stagnannya program dua anak yang digemborkan BKKBN selama lebih kurang 15 tahun terakhir. Hal itu, lanjut dia, me-merlukan terobosan baru dalam mensosialisasikan program KB. Program Kampung KB yang dicanangkan serentak di berba-gai daerah di Indonesia ini pun, menurut Evi, menjadi langkah untuk menekan rerata jumlah anak dan mengendalikan po-pulasi warga Indonesia agar tak sempai terjadi ledakan penduduk.Menurut dia, kriteria kampung yang dipilih yaitu yang masuk kategori miskin, relatif kumuh dan memiliki kepadatan pen-duduk tinggi. Sebelum menen-tukan lokasi Kampung KB, pi-haknya juga sudah melakukan pengecekan dengan indikator-indikator yang sesuai.

Lima kampung yang terpilih sebagai Kampung KB di DIJ yaitu Dusun Tegiri 2, Hargowilis Kokap, Kulonprogo; Dusun Jasem, Srimulyo, Piyungan Bantul; Dusun Wonolagi, Ngleri Playen, Gunung-kidul; Dusun Malangrejo, We-domartani, Ngemplak, Sleman, serta RW 12 Prawirodirjan, Gon-domanan, Kota Jogja. Di dalam Kampung KB pihaknya akan lebih aktif melibatkan ber-bagai pihak yang ada. Termasuk kalangan remaja, dengan men-jadikan mereka sebagai konselor sebaya. Menurut Evi dengan pelibatan teman-teman seumu-ran itu diharapkan penyam-paian materi bisa lebih intensif. “Diharapkan bisa saling ber-diskusi untuk mencari solusi atas berbagai masalah remaja se-perti seks bebas, penyalahgu-naan narkoba dan HIV/AIDS,” tuturnya.

Sementara itu Gubernur DIJ Hamengku Buwono X mendukung penuh upaya BKKBN DIJ untuk membentuk Kampung KB. Menurutnya, masalah di perkam-pungan cukup kompleks dan memerlukan penanganan tepat, sehingga BKKBN mestinya bisa menentukan langkah terbaik untuk mencari solusi. Pihaknya akan meminta BKK-BN untuk membagi program mereka ke dalam beberapa kelompok seperti program fisik dan pembinaan. Untuk program pembinaan, Pemprov DIJ akan membantu dengan memasuk-kannya ke dalam pos Dana Ke-istimewaan. (pra/laz/ong)