grafis-gas-palsu
BANTUL- Kasus manipulasi gas ukuran 12 kilogram terjadi di wilayah Sedayu, Bantul. Dua tersangka tak berkutik saat polisi menggerebek sebuah rumah di Dusun Watu, Argomulyo, yang menjadi tempat pengoplosan gas.

Saat itu, dua pelaku, Mursodo, 50, warga Dusun Watu, Argomulyo dan Waluyo, 52, asal Pereng Dawe, Balecatur, Gamping, Sleman sedang memindahkan gas subsidi ukuran 3 kilogram ke dalam tabung elpiji 12 kilogram.

Dari tempat kejadian perkara, polisi menyita 119 tabung gas melon 3 kilogram dan 51 tabung elpiji 12 kilogram. Serta perangkat untuk mengoplos gas.

“Tersangka kami tangkap beserta barang bukti guna keperluan penyidikan,”ujar Kapolsek Sedayu Kompol M. Nawawi kemarin (2/2).

Menurut Nawawi, kasus tersebut terbongkar berkat laporan warga setempat. Warga curiga oleh bau menyengat gas yang berasal dari sekitar lokasi kejadian.

Polisi lantas menyelidiki kasus tersebut guna mengumpulkan alat bukti. “Setelah diyakini ada praktik tindak pidana, kami gerebek,” tegasnya.

Dari penyidikan perkara, tersangka mengaku telah menjalankan praktik curang tersebut selama dua minggu. Empat gas tabung hijau dipindahkan ke tabung isi 12 kilogram.

“Mereka jual (elpiji 12 kilogram) ke warung-warung di luar Sedayu sesuai pesanan,” jelas perwira menengah Polri dengan melati satu itu.

Tindakan tersebut dilakukan tersangka demi meraup keuntungan.

Bagaimana tidak, saat ini, harga rata-rata gas 12 kilogram sekitar Rp 135 ribu/tabung. Sementara, gas melon subsidi dipatok antara Rp 17 ribu-Rp 18 ribu di tingkat pengecer. Artinya, dalam setiap satu tabung elpiji 12 kilogram, pelaku meraup keuntungan hingga Rp 67 ribu. Atau hampir seratus persen dari modal.

Saat ini, para tersangka mendekam di sel Mapolsek Sedayu untuk mempertanggungjawabkan tindakan mereka. Keduanya dijerat pasal 62, ayat (1), juncto pasal 8, huruf (a) dan (c) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan atau pasal 31, juncto pasal 32 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2Tahun 1981 tentang Metrologi Ilegal. Dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.(zam/yog/ong)

Sanksi bagi Agen Nakal

Kasus gas oplosan menjadi perhatian serius PT Pertamina, selaku produsen elpiji di Indonesia.

Nah, dari kasus tersebut, Kepala Pertamina DIJ Dodi Prsetyo mengimbau masyarakat agar jeli dalam memanfaatkan bahan bakar tersebut.

Caranya, menghitung lama pemakaian gas berdasarkan kebutuhan sehari-hari. Jika gas habis lebih cepat daripada biasanya, patut diduga itu adalah elpiji oplosan. “Jika ada ketidakberesan, masyarakat tak perlu takut melapor kepada kami,” pintanya kemarin.

Dodi menegaskan, Pertamina tak segan menjatuhkan sanksi bagi agen nakal yang melanggar ketentuan dan undang-undang. Seperti pernah dilakukan kepada pangkalan gas di Gamping yang menjual produk tak sesuai dengan harga ketentuan. “Siapa saja terbukti curang, kami putus hubungan mitra kerja sama,” tegasnya.

Sejauh ini, lanjut Dodi, Pertamina belum menerima laporan kasus gas oplosan di Bantul maupun Sleman. Kendati begitu, pihaknya akan mengecek kebenaran kasus yang terjadi di Sedayu.(bhn/yog/ong)