ASYIK NGOBROL: Bupati Kulonprogo dr Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) saat di rumah dinasnya di Wates, Kulonprogo.

Dipaksa Operasi Pasien di Pagi Hari, Pintar-Pintar Bagi Waktu

Beberapa hari lalu, tepatnya Senin tengah malam, Radar Jogja berkesempatan minum teh bareng Bupati Kulonprogo dr Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) di rumah dinasnya di Wates. Kurang lebih satu jam, kami ngobrol ringan. Hasto menceritakan banyak pengalamannya hingga menjadi bupati saat ini.

JOKO SUHENDRO, Wates
TIDAK ada yang sulit untuk bisa bertemu Bupati Hasto Wardoyo. Diawali dengan pesan singkat melalui WhatsApp, beberapa menit kemudian izin silaturahmi disetujui. “Monggo, kami tunggu di rumah dinas,” kata Hasto, panggilan akrabnya, melalui WA.Radar Jogja kembali meminta izin bahwa satu jam kemudian baru bisa sampai di rumah dinas di Wates. Ini karena rombongan berang-kat dari kantor redaksi di Condongcatur, Depok, Sleman. “Nggak papa, kami tunggu,” jawabnya ramah.

Benar saja, satu jam kemudian, tepatnya Senin malam pukul 22.00 WIB kami tiba di rumah dinas yang letaknya dekat Alun-Alun Wates dan di samping kanan Makodim Kulonprogo itu
Sebagaimana tamu umumnya, diawali lapor dulu di penjagaan, lalu diminta menunggu. Tak sampai satu jam menung-gu, kami dipersilakan masuk. Meski dipersilakan masuk, tetap saja kami masih di luar. Kami diterima di serambi gedung yang juga difungsikan sebagai lobi.

Saat kami dipersilakan masuk, ternyata di sana Bupati Hasto masih ada tamu, seorang ke-pala desa dan seorang kepala dukuh. Kami pun diperkenalkan dengan kades dan pak dukuh tersebut.

Tidak ada rasa canggung, kami ngobrol asyik berlima. Sebelum ngobrol, Hasto menyempatkan untuk membangunkan seorang ibu paro baya yang ruangannya tak jauh dari teras tersebut. Ter-nyata si simbok tersebut diminta untuk membuatkan minuman. Secangkir teh dan sepiring singkong goreng segera datang menemani kami ngobrol. “Silakan diminum dulu, ini (singkong) nyamikan-nya,” sambut Hasto lagi.

Sambutan yang sederhana namun hangat, dan akrab malam itu. Hasto tampak ceria dengan kemeja putih seperti baju dinas yang biasa dipakai ketika men-jalankan profesinya sebagai seorang dokter. Benar saja, ob-rolannya tak lepas dari tugas dan pekerjaan Hasto selama ini. “Maklum mas, Pak Hasto ini dokter yang nyambi jadi bupati. Jadi bupati itu hanya samben,” seloroh kepala desa yang kemu-dian disambut geeerr berlima.

Dari situ, akhirnya Hasto menga-wali cerita tentang profesinya sebagai seorang dokter. Men-urutnya, profesinya sebagai seorang dokter memang sudah mendarah daging, sehingga dia tidak bisa meninggalkan status-nya sebagai dokter hingga kapan pun. “Pada Minggu (17/1), saya baru saja mengoperasi pasien di Jogja,” kata Hasto.

Malam itu, menurut Hasto, dia mengoperasi pasien yang sakit kronis, di mana tumor si pasien sudah menyatu dengan usus. “Butuh waktu empat jam saya melakukan operasi untuk memis-ahkan usus pasien dengan tumornya,” lanjut Hasto.

Saat operasi ini, Hasto menga-ku dibuat keringat dingin. Bukan hanya karena harus berdiri em-pat jam, tapi penyakit yang dio-perasi butuh kehati-hatian yang tinggi. Dia bersyukur, akhirnya operasi berjalan lancar, meski lama. “Kira-kira jam satu malam, operasi baru selesai. Alhamdu-lillah berhasil dan pasien terse-lamatkan,” ungkapnya.

Tak hanya sampai di situ, Senin-nya (18/1) dia kembali dipaksa pasien untuk melakukan ope-rasi. Dikatakan dipaksa, karena Senin itu, dia harus sudah men-jalankan ketugasannya sebagai bupati. Kebetulan dia dijadwal-kan harus menerima tamu dari keluarga keraton yang berarti juga keluarga Gubernur DIJ.

Saat itu, diceritakan Hasto, dia harus menerima tamu dari ke-raton tersebut pada Senin pagi antara pukul 09.00-10.00 WIB. “Itu saya sudah janjian, dan tidak bisa ditunda lagi tentang perte-muan itu. Mereka dari provinsi, mereka utusan Ngarso Dalem,” ujarnya serius.

Tapi, si pasien itu tetap ngotot meminta Hasto yang mengope-rasi. Kalau tidak dioperasi Has-to, si pasien memilih batal ope-rasi, lalu pulang dan rela bergu-lat dengan penyakitnya. “Akhir-nya saya ngalah,” katanya menceritakan.

Akhirnya disepakati, operasi dilakukan pagi-pagi, sebelum pukul 07.00 WIB. Untuk menga-kalinya, agar operasi tetap bisa dilakukan Hasto, dan tetap bisa menerima tamu dari keraton. Hasto lantas hanya mengawali proses operasinya saja. Yakni membedah atau merobek sedi-kit kulit pasien, selanjutnya operasi hingga tuntas dilanjut-kan dokter lain. “Alhamdulillah akhirnya semua berjalan dengan baik, dan si pasien juga mau,” tuturnya sam-bil tersenyum.

Obrolan sempat terhenti, ka-rena si kepala desa dan kepala dukuh pamit untuk pulang. Ke-duanya memang sudah cukup lama bersama Bupati Hasto. Dan, urusan dinas pemerintahan memang sudah selesai. Kemudian, obrolan dilanjutkan. Masih tentang profesinya seba-gai seorang dokter, Hasto menga-ku, meski sudah menjadi bu-pati, dia masih melakukan praktik dokter. Setidaknya se-minggu dua kali dia tetap me-layani pasien.

“Tapi khusus bedah, untuk mengoperasi pasien. Seminggu dua kali, dan saya pilih di luar jam kerja sebagai bupati. Seringnya di malam hari,” tuturnya.Tak hanya sebagai dokter, dia juga masih menyempatkan un-tuk menjalankan hobi dinas yang lain, yakni sebagai pengajar atau dosen. (ila/ong/bersambung)