DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
TANGGUH: Wiranata Rifandi bertekad merebut medali emas di PON 2016 mendatang.

Sempat Tekuni Sepak Bola, Kini Berprestasi di Tarung Derajat

Mempertahankan memang jauh lebih sulit. Ungkapan inilah yang kini jadi tantangan sekaligus motivasi Wiranata Rifandi pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 mendatang. Apa persiapannya?

DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja

GOR Soreang Bandung, Jawa Barat boleh jadi akan selalu dikenang Wira dalam perjalanan prestasinya di cabang olahraga tarung derajat. Di GOR itulah, untuk pertama kalinya mengicipi kejuaraan kualifikasi untuk mencari tiket bertanding di PON yang tahun ini akan digelar di Jawa Barat.

Atmosfer persaingan dan pertarungan pun sedikit membuatnya deg-degkan ketika melihat atlet-atlet dari daerah lainnya. “Kang Dedih (Dedih Kusnadi, pelatih tarung derajat, Red) juga sudah member brifing kalau lawan yang saya hadapi kemungkinan juga juara nasional dan PON lalu,”ujar atlet kelahiran Jogjakarta 12 November 1993 ini.

Dari pertandingan ke pertandingan, selain fokus pada lawan yang akan dihadapi, matanya juga tidak lepas memantau siapa saja atlet yang harus diwaspadai. Dan benar, dia sempat mengagumi permainan atlet Bali yang kemudian ternyata menjadi lawannya di final.

Bahkan dalam hatinya dia sempat berharap agar tidak dipertemukan atlet tangguh asal Bali ini.

“Saya awalnya nggak tahu kalau dia satu kelas dengan saya. Karena setiap lawan dibuat KO bahkan tidak sampai ronde pertama. Ehh, ternyata ketemu di final, ya saya harus menaikkan mental dan maju bertarung,”ujar peraih medali emas di kelas 64-67kg putra ini.

Perjuangan Wira belum berakhir. Justru ini menjadi tantangan baginya untuk mempertahankan gelar juara dan bisa menempati kembali podium tertinggi dan mencapai klimaks di PON 2016. Selain menambah jam latihan yang sudah diprogramkan di Pusltada, yakni 25 jam per minggu dengan jadwal pagi dan sore hari, dia juga berlatih pribadi mandiri.

Karena inilah kunci kesuksesan yang terus diterapkan oleh sang pelatih agar dia mampu meraih prestasi tertinggi.

Tarung derajat awalnya memang awam bagi Wira. Sepak bola justru olahraga yang digelutinya lebih dulu. Saat dirinya duduk di bangku kelas 2 SMA, seorang teman mengenalkan tarung derajat dan mengajaknya berlatih bersama.

“Awalnya ya cuma untuk cari keringet sore aja. Itu juga ngga dapat izin orangtua karena masih dianggapnya masih jalanan banget. Tapi setelah tahu dan lihat sendiri lalu saya juga buktikan dengan prestasi akhirnya mereka memberikan support,”papar peraih medali emas Porda 2015 ini.

Latihan lebih keras lagi. Itulah janji yang diteriakannya pada diri sendiri. Bersama dua atlet tarung derajat lainnya, Wira akan bersama-sama berjuang keras untuk emmberikan yang terbaik bagi Jogjakarta.

“Setidaknya saya thau kekurangan dan kelebihan lawan. Karena yang tampil di PON juga yang kemarin tampil di Pra PON. Kecuali atlet tuan rumah. Saya harus persiapkan diri lagi, karena tarung derajat juga lahirnya di Jawa Barat,”ujar Wira.(din/ong)