GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
 
SLEMAN – Sekolah alam terpadu Jogja Green School di Dusun Jambon, Trihanggo, Gamping, Sleman, Rabu siang (3/2) mendadak gempar. Hal itu setelah adanya ancaman bom yang dikirimkan seseorang melalui pesan singkat.

Pesan singkat adanya ancaman bom diterima oleh Wisnu Baroto suami dari Eny Krisnawati, yang merupakan Kepala Sekolah Jogja Green School. Pesan singkat itu diterima sekitar pukul 11.00 WIB. Pesan singkat dari orang tak dikenal itu diterima saat Wisnu selesai mengantarkan Eny ke sekolah.

Dalam pesan singkat itu pelaku menyebutkan ada bom di dalam sekolah. Pesan singkat dari nomor 085641710310 ini isinya “Selamat pagi bapak yang terhormat silakan evakuasi anak-anak karena bom sudah terpasang di sekolah istri anda…. JIHAD KEBATILAN. ”
Mendapatkan ancaman isu bom seperti itu, lantas kepala sekolah langsung melaporkan ke Polsek Gamping. “Bu Eny, kepala sekolah, lalu melaporkan hal tersebut ke Polsek Gamping,” tandas Sekretaris Sekolah Dian Kurnia kepada Radar Jogja, kemarin (3/2).

Dia mengatakan, puluhan murid sekolah alam yang terdiri dari PAUD, TK, dan SD itu lalu dievakuasi keluar sekolah. Bocah-bocah kecil itu dibawa ke musala dan gereja tak jauh dari sekolah.

Akibat ancaman bom tersebut, kegiatan belajar mengajar terpaksa dihentikan. Dian mengatakan, ada sekitar 70 siswa PAUD dan TK serta 40 siswa SD di sekolah tersebut. Para orang tua yang mendapat pemberitahuan di grup aplikasi WhatsApp sekolah langsung menjemput buah hatinya.

Beberapa saat kemudian, datang Tim Gegana Brimob Polda DIJ yang menyisir lokasi. Satu per satu ruangan dan bagian sekolah diperiksa menggunakan metal detector. Namun, beberapa lama diperiksa, polisi tidak menemukan adanya bom seperti yang dimaksudkan.

Kapolres Sleman AKBP Yuliyanto ditemui di lokasi kejadian mengatakan, setelah dilakukan penyisiran dipastikan memang tidak ditemukan bom. Namun demikian, pihaknya terus melakukan penyelidikan guna mencari pelaku tak bertanggung jawab yang telah mengirimkan ancaman itu. “Masih kita selidiki dan dalami lagi untuk mengetahui pelaku dan motifnya,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun Radar Jogja ada dugaan pengirim ancaman tersebut adalah bekas karyawan sekolah yang kecewa karena telah diberhentikan. Sekolah yang beraktivitas sejak pukul 07.00 sampai dengan 17.00 WIB untuk kelas full day itu mempekerjakan sekitar 15 tenaga pengajar. (riz/ila)