HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
Rebin, 64, salah satu korban yang mengalami luka parah dirawat di RSUD Wates, kemarin (3/1).
Hujan dengan intensitas tinggi terjadi selama dua hari ini di wilayah DIJ. Warga diimbau untuk waspada, terutama bagi mereka yang berada di kawasan zona merah rawan bencana, baik bencana tanah longsor, banjir, hingga pohon tumbang.

 
KULONPROGO – Hujan yang berlangsung dua hari ini, mengakibatkan bencana tanah longsor di Pedukuhan Nglinggo Timur, Pagerharjo, Samigaluh, Kulonprogo. Akibat musibah ini, satu korban meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka-luka. Korban meninggal Tukijo, 58, yang tidak lain adalah Dukuh Nglinggo Timur. Sementara Rebin, 64, dan Wagiran, 58, berhasil selamat kendati mengalami luka-luka akibat tertimbun material tanah.

Saksi mata Darto mengungkapkan, longsor sebetulnya tidak mengenai permukiman, hanya menutup ruas jalan. Tepatnya di poros jalan Pasar Plono menuju kebun teh wilayah Pedukuhan Nglinggo Timur, Pagerharjo. Longsor terjadi Selasa (2/2) malam sekitar pukul 19.00 WIB.

“Karena menutup jalan, warga termasuk korban mencoba membersihkan material untuk membuka akses jalan. Namun terjadi longsor susulan, dan menimbun warga,” ungkapnya, kemarin (3/2).

Dijelaskan, longsor susulan yang membawa korban itu terjadi Rabu (3/2) sekitar pukul 08.30 WIB. Tebing tiba-tiba runtuh, dan membuat sebagian warga yang tengah kerja bakti lari menjauh. Nahas bagi Tukijo, Rebin, dan Wagiran, ketiganya tidak sempat menyelamatkan diri.

Warga langsung melakukan pencarian secara manual dengan menggali material longsoran. Kali pertama, Rebin dan Wagiran yang berhasil ditemukan, mereka tertimbun tanah sekitar 40 centimeter. Beruntung, nyawanya berhasil tertolong.

Namun, nahas bagi Tukijo yang terpendam lebih dalam, baru berhasil ditemukan beberapa menit kemudian. Saat ditemukan sudah dalam kondisi meninggal dunia. “Saat kejadian pak Dukuh (Tukijo) membelakangi tebing dan memakai helm, sehingga tidak tahu atau tidak mendengar ada longsor susulan. Awalnya hanya kakinya yang tertimbun, dia kemudian jatuh telungkup dan tertimbun lagi,” jelasnya.

Korban sempat dilarikan ke Puskesmas 2 Samigaluh. Setelah dipastikan meninggal, Tukijo kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Sedangkan Rebin dan Wagiran langsung dirujuk ke RSUD Wates.

Kapolsek Samigaluh AKP Lucia Sri Hartati menyatakan, longsor susulan itu terjadi saat kerja bakti hampir selesai dan tinggal membuat drainase tepi jalan. Tiba-tiba longsor susulan itu terjadi.

“Tukijo meninggal di tempat, Rebin mengalami patah tulang rusuk dirujuk ke RSUD Wates. Sedangkan Wagiran mengalami luka ringan,” terangnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo Gusdi Hartono mengatakan, pihaknya langsung ke lokasi setelah mendapat informasi tersebut. BPBD juga menerjunkan sejumlah personel untuk mengevakuasi material, sekaligus membawa bantuan logistik.

Diakuinya, Kulonprogo memang merupakan wilayah yang masuk zona merah rawan bencana. Memasuki musim penghujan warga di perbukitan diimbau untuk waspada bencana tanah longsor. Sedangkan di wilayah selatan, warga diminta waspada datangnya banjir.

“Saya mengimbau warga untuk lebih waspada, terlebih curah hujan di bulan Februari hingga Maret diperkirakan tinggi,” katanya.

Disamping itu, berhati-hati pula bagi para wisatawan yang akan menuju ke objek wisata di Perbukitan Menoreh. Sebab, ruas-ruas jalan menuju ke sana juga rawan longsor. Saat intensitas hujan tinggi kerap terjadi longsor skala kecil hingga sedang.

Terlebih bencana longsor ini juga terjadi di ruas jalan sekitar Pasar Plono menuju Kebun Teh Nglinggo. Di Samigaluh sendiri terdapat beberapa objek wisata yakni Kebun Teh Nglinggo, Curug Sidoharjo, Puncak Widosari, dan Puncak Suroloyo. (tom/ila/ong)