JOGJA-Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Nasihat itu relevan untuk mewaspadai virus Zika. Itu tetap harus dilakukan meskipun, sampai saat ini belum ada temuan langsung di DIJ, terhadap virus yang berbahaya bagi ibu hamil yang bisa mengakibatkan bayi menderita microcephaly ini.

Tapi, bukan berarti lantas menunggu. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja telah menerbitkan surat edaran (SE) ke Puskesmas-Puskesmas. “Kami hanya antisipatif dengan meningkatkan kewaspadaan petugas dan masyarakat,” kata Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti (HS) kemarin (3/2).

HS menjelaskan, kewaspadaan sama dengan demam berdarah. Jika muncul gejala demam tinggi, segera periksakan ke fasilitas kesehatan terdekat. Kemudian, minta untuk dilakukan pengecekan laboratorium. “Di Puskesmas sudah paham apa yang harus mereka lakukan,” ujarnya.

Seperti telah diketahui, muncul temuan dari hasil penelitian Eijkman Institute for Molecular Biology. Lembaga tersebut menemukan satu kasus positif terinfeksi virus Zika di Provinsi Jambi, Minggu (31/1). Disebutkan, virus yang menimbulkan kerusakan otak pada bayi yang baru lahir ini telah ada di Indonesia selama “beberapa lama”.

Bahkan, Gubernur DIJ Hamengku Buwono X telah menerbitkan surat edaran ke kabupaten dan kota. Surat itu isinya meminta kabupaten dan kota meningkatkan kewaspadaan terhadap virus yang disebarkan Aedes Aegypti tersebut.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Jogja Agus Sudrajat menegaskan, belum ada obat dari penyakit yang ditemukan di Amerika Selatan itu. Paling efektif adalah dengan mencegah atau gerakan lima M. “Yakni menimbun, menguras, menutup, mengganti, dan menaburkan abate tempat genangan air.

Menurut Agus, gejala awal dari virus tersebut adalah demam tinggi, nyeri otot, dan bintik-bintik merah. “Kalau merasakan hal demikian, harus segera periksa,” himbaunya.

Ia menuturkan, bahaya penyakit dari virus ini pada ibu hamil. Bayi yang dilahirkan bisa mengalami microsephaly. Kebalikan dari hydrosephalus dengan kepala besar. “Kewaspadaan harus lebih pada ibu hamil,” katanya.

Tak hanya faskes, camat-camat pun juga harus membuka telinga lebar-lebar. HS memerintahkan camat harus aktif mendengarkan keluhan dari masyarakat. “Kalau ada warganya yang mengalami gejala mirip DB, segera koordinasi dengan kecamatan,” perintah HS. (eri/din/ong)