SLEMAN – Panen jagung yang terjadi di wilayah Sleman ternyata tak berbanding lurus dengan harga produk palawija tersebut di pasaran. Pasokan jagung kuning, yang biasa untuk campuran pakan ternak justeru menurun. Itu berakibat melonjaknya harga pakan utama untuk ayam di pasaran. Daya beli masyarakat pun menurun.

“Pasaran sepi, penjualan turun drastis karena harga naik terus,” keluh Parjiyanto, salah seorang pedagang pakan ternak di Caturtunggal, Depok kemarin (3/2).

Kenaikan harga pakan berbahan campuran jagung mencapai hampir dua kali lipat selama dua minggu terakhir. Dari semula Rp 5 ribu, kini menjadi Rp 9 ribu per kilogram.

Menurut Parjiyanto, harga pakan terlalu mahal sehingga jumlah pelanggannya berkurang. “Anehnya, hanya (pakan) yang mengandung jagung. Lainnya normal,” ungkapnya.

Tak mau merugi, Parjiyanto mengaku terpaksa menjual dagangannya lebih mahal dari biasanya. Alasannya, harga kulak bahan pakan jagung sudah tinggi dari produsen.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Sleman Widi Sutikno tak bisa menutupi keheranannya melihat fakta tersebut. Widi menilai, potensi panen jagung yang mencapai tiga ribu ton lebih dari cukup untuk memasok kebutuhan pakan ternak. “Apalagi jumlah peternah ayam di Sleman tidak banyak,” katanya.

Widi menduga, kelangkaan jagung bahan campuran pakan ternak karena produk tersebut lebih banyak terserap ke luar daerah. “Ini masalah nasional,” lanjut Widi.

Produsen pakan ternak yang didominasi petani dari luar Sleman turut menjadi penyebab tingginya harga produk tersebut di pasaran.

Kenaikan harga pakan ternak berimbas pada harga ternak. Peternak ayam juga mulai kesulitan menjual produk karena harganya harus dipatok lebih tinggi dari sebelumnya. “Dijual di atas harga normal,” kata Suratin, peternak ayam asal Margoagung, Seyegan.

Untuk mendapatkan hasil ternak berkualitas, ucap Suratin, dirinya harus member pakan berkualitas pula. Menurutnya, mengganti jenis pakan atau mengurangi komposisinya bukan solusi terbaik. Tanpa asupan gizi berkualitas, Suratin khawatir ternaknya mudah mati. Itu akan menimbulkan masalah baru baginya. “Kami jelas makin rugi,” katanya.

Saat ini, Suratin menjual ayam hidup seharga Rp 20 ribu per kilogram dari semula Rp 16 ribu.(bhn/yog/ong)